Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Pernahkah Anda ke desa atau kampung nan udik? Di sana, seringkali Anda akan menemukan dan bahkan melintasi titian.
Sebuah jembatan kecil yang terbuat dari kayu atau pun papan, tempat orang menyeberang.
Jika ada titian, besar kemungkinan di tempat itu, biasanya ada sungai atau mungkin juga jurang kecil.
Sang bijaksanawan pun sering bertutur, bahwa “Anda pun dapat menjadi sebuah titian, jika memang tak ada jembatan emas.”
Entah itu cuma sebuah titian atau tersedia sebuah jembatan emas, toh tujuannya hanya satu dan sama.
Baik hanya sebuah titian atau jembatan emas, keduanya adalah sarana penghubung, yang menghubungkan antara dua tempat terpisah.
Pernah seorang capres dari sebuah negara adidaya sangat marah, karena dia menghendaki agar warga dari negara mana pun tidak boleh melintasi dan memasuki negaranya sebagai pengungsi.
Maka, dikampanyekan, jika dia menjadi Presiden, maka program utamanya, dia akan membangun tembok raksasa pemisah.
Maka, isu propaganda bernada hitam serta anti kemanusiaan itu segera ditanggapi secara terbalik oleh sang lawan politiknya.
“Saudara-saudara, jika saya terpilih menjadi Presiden, maka program besar yang segera akan dibangun ialah membangun sebuah titian penghubung antar negara. Kita, perlu membangun aksi kemanusiaan berkolaborasi demi dan atas nama kemanusiaan.โ
Sesungguhnya, apa tujuan kita hidup di atas bumi? Sejatinya, para pemimpin yang berhati mulia akan membangun proyek kemanusiaan, berupa “satu planet bumi untuk semua manusia.” Itulah sebuah cita-cita universal, membangun sebuah dunia sebagai hunian semesta.
Sebuah jalan paling sederhana untuk menuju ke sana, ialah dengan membangun bersama sebuah titian.
Membangun titian kemanusiaan adalah sebuah cita-cita luhur atas nama kemanusiaan semesta!
…
Kediri,ย 4ย Februariย 2024

