Fr. M. Christoforus, BHK
“Ubi mel, ibi apes”
Di mana ada madu, di situ ada lebah.
…
| Red-Joss.com | Sungguh, betapa kuatnya daya pikat sang cinta itu. Pun tiada sungai dapat melandanya.
Cinta, sebuah kekuatan yang tiada duanya. Dia lebih kuat daripada apa pun di dunia ini.
Sebuah permusuhan atau pun peperangan dasyat, akan segera berakhir tatkala sang cinta menunjukan wajah agungnya.
Kekuatan cinta itu sungguh dapat meluluhkan hati sekeras baja. Bahkan sanggup melumpuhkan moncong senjata nan ganas. Dia, kedasyatan yang disimpan Tuhan di dalam sanubari sang manusia.
Orang berbahasa Latin punya adagium, “Amor Omnia Vincit,” Cinta telah mengalahkan segalanya.
Cintalah tali pengikat segalanya. Pengikat apa? Ya, pengikat daya pikat cinta itu. Pengikat antar hati sang manusia.
Orang-orang yang telah sungguh saling mencintai akan tetap tinggal selamanya, walau pun mereka menghadapi aneka tantangan dan hambatan.
Daya pikat sang cinta itu bagaikan seutas tali yang mengikat di leher kesadaran kita. Ia akan membimbing dan menuntun kita untuk rela dan ikhlas memasuki relung-relungnya.
Maka, orang-orang yang berada di dalam relungan cinta, biasanya akan sungguh merasa berbahagia.
Cinta tulus telah membuka wajah agungnya, mengulurkan jemari tulusnya, serta merangkul mesra inti misterinya.
Laksana sekuncup kembang yang meletup mekar, demikian tabiat sang cinta yang ikhlas menyebarkan aromanya.
Kini sadarlah kita, mengapa orang-orang pun telah rela berkorban atas nama sebuah cinta.
Seperti seorang Ibu, yang telah rela mengorbankan jiwa raganya demi hidup anak-anaknya. Nah, demikian pula tabiat sejati sang cinta itu.
Sang cinta pun berkumandang lantang, “Aku hadir demi kamu!”
…
Kediri,ย 3ย Februariย 2024

