| Red-Joss.com | Doa adalah sungsum tulang punggung jiwa, ketika beban membuat harapan jadi hambar.
Mahkota doa saya dapat dari pengamen di pagi ini. Lelaki muda, bagus rupa, tangan bertato, hidung ber-anting, dengan gendang ditabuh mendekat jendela yang sudah kubuka.
“Sukses, ya…!” sapaku sambil kuulurkan apresiasi. Sambil tersenyum ia mengangkat gendang dan katanya: “Doa kami semoga Om bahagia hari ini.” Amazing!
Saya pernah berada dalam cuaca gelapnya hidup yang sangat dalam. Mata lahirku terhambat menatap cahaya oleh keruhnya pikiran dan hatiku. Doa saja membuatku mampu melewatinya, sebab hanya doa yang membuatku tersambung dengan sumber asa, yakni Tuhan. Dia tak pernah jauh dari hidupku.
Maka bagiku, doa bukan upaya menggugah Tuhan untuk mohon pertolongan, sebaliknya mengingatkan diri ini agar tidak ragu, bahwa Tuhan tidak pernah jauh.
Pernah, di saat aku sendiri dalam posisi nyaris terduduk, hadir satu family yang butuh tempat sejenak bersandar di saat hidupnya membuat lelah. Harta aku tak punya, tapi yang dibutuhkan adalah teman bersujud, sahabat yang mau jadi penumpu lutut jiwanya yang lelah.
Doa bersama menyatukan daya yang lemah itu menjadi kuat, sehingga family itu kembali menemukan dayanya lagi.
Doa mengingatkanku pada Firman Tuhan: “ranting yang lepas dari batangnya pasti mati.” Tapi doa menyambung ranting yang putus.
Dalam suatu homili Romo yang sering ikut Novena, menegaskan: kekuatan doa kita yang jadi peneguh niat umat untuk melanjutkan perjalanan yang memang jauh dan melelahkan. Tapi bersatu dalam doa seraya berjalan bersama akan membuat kita bahagia.
Salam sehat dan teruslah bernyala sampai padam nyalamu.
…
Jlitheng

