Simply da Flores
…
Kembali ke Jakarta
mataku masih melihat polusi
pedis di mata pedih di hati
Cerita suka duka terus bersemi
dengan balutan kreasi inovasi
dari kecanggihan sarana digital zaman ini
“Yang kaya semakin kaya
bangga dan terus berpesta pora
Yang miskin bertambah miskin
lara menderita mati merana”
Roda zaman menggilas jiwa raga
orang-orang mati bercanda
karena sudah selesai duka laranya
Sedangkan orang yang bernafas
terus mati nalar nurani dan jiwa
Entah mengapa dan sampai kapan
Entah salah apa dan siapa
Di dalam gedung mewah modern
ada banyak orang-orang mati
Di ruang dingin kantor pejabat
ada banyak orang mati
Di kawasan pabrik dan jalanan
ada banyak orang dimatikan
Di rumah keluarga dan proyek
juga banyak orang dimatikan
Di dusun pelosok kampung desa
orang-orang terus dimatikan
dengan kata suci pembangunan
Di tempat-tempat pendidikan
ternyata menjadi dapur pembunuhan generasi
demi kata sakral dagang pembodohan
demi angka sakti keuntungan bisnis
Dari ibukota NKRI Jakarta
barisan laskar orang mati
diciptakan dan disebar ke seluruh pelosok negeri
dan diwariskan kepada generasi
Misalnya dengan budaya korupsi
dalam kata tipu-tipu suci
dan angka-angka di kertas sakti
Laskar Orang-orang Mati
seperti data digital yang tak berhingga
Gelombang dasyat arus zaman
yang setiap detik menghempas jiwa raga
Tidak peduli kelas sosial budaya
Tidak bisa dibatasi ruang dan waktu
Roda-roda gila zaman Milenial
yang terus mengubah manusia
dari pribadi utuh multi dimensi
menjadi robot raga bernafas
yang akan menjelma menjadi angka data
lalu yakin memiliki surga baka
dan penguasa alam semesta
…

