| Red-Joss.com | Mas Cantrik berharap memperoleh kesempatan untuk menjajal ilmu kanuragan Kisanak, lelaki yang membuntutinya itu. Tapi sayang, mereka tidak berada dalam satu grup.
Tidak hanya itu, ternyata lomba itu hanya menyaring 5 besar setiap grup. Lalu mereka itu yang bakal digembleng untuk menjadi pasukan pengawal Ki Gento.
Meski lolos, Mas Cantrik penasaran sekali dengan keberadaan Kisanak. Ia mempunyai misi sama sepertinya atau justru berseberangan.
Bersikap cuwek, tapi selalu eling lan waspada itu yang dilakukan oleh Mas Cantrik. Ia tidak mau dipusingi dengan kemisteriusan Kisanak!
Dengan menjadi calon pasukan pengawal Ki Gento, Mas Cantrik mulai diperbantukan untuk menjaga Kademangan. Pembawaannya yang ramah, sopan, dan mudah bergaul membuat ia disenangi banyak orang.
“Jadi Mas Cantrik bisa mengobati orang sakit?” tanya Ki Kunto sambil menatap tajam Mas Cantrik.
“Ya, dilihat dulu keadaan Ibumu. Saya pernah belajar ilmu ramuan obat dari tumbuh-tumbuhan,” jelasnya.
“Seusai jaga, kau ke rumahku. Kau lihat keadaan Ibuku,” ajak Ki Kunto antusias.
“Asal tidak merepotkanmu.”
“Merepotkan gimana. Aku malah senang. Ada yang mau mengobati Ibu, dan menemani aku ngobrol,” Ki Kunto tersenyum.
Sepulang piket jaga, Ki Kunto mengajak Mas Cantrik ke rumah.
“Ini anakmu, Ki,” tanya Mas Cantrik sambil menowel pipi anak kecil yang manja pada Ki Kunto.
“Anak adikku,” katanya lirih. Mas Cantrik melengeh. Ia lalu masuk ke rumah Ki Kunto.
Seorang wanita muda ke luar dari kamar. Anak kecil itu menghambur dan memeluk wanita itu dengan manja.
Mas Cantrik mengangguk hormat pada wanita itu, sebelum ia duduk di lincak bambu.
Ki Kunto membimbing Ibunya ke luar dari kamar, lalu mendudukkan di samping Mas Cantrik.
Mas Cantrik memeriksa nadi Ibu Ki Kunto sambil bertanya jawab seputar keluhannya. Ia lalu meminta pada Ki Kunto untuk menyeduh beberaps tanaman obat.
“Ibumu banyak pikiran ya, Ki,” kata Mas Cantrik, ketika mereka duduk di lincak depan rumah.
“Kok tahu…”
“Karena yang dipikirkan Ibumu itu anak-anaknya.”
Tanpa diminta, Ki Kunto bercerita sendiri. Adiknya yang ditinggal pergi suaminya adalah salah satu faktor ia malas menikah. Selain tentu saja, keadaan Ibunya yang sakit-sakitan. Sehingga mereka makin akrab.
“Maaf Ki, saya pernah mendengar desas desus. Apa mungkin anak junjungan kita menyuruh orang untuk menculik anak Ki Demang?”
Tiba-tiba Ki Kunto tertawa bergelak.
“Ah, itu cerita usang!”
“Maksud Ki Kunto?” Mas Cantrik terperangah, kaget. Dipandangnya Ki Kunto, tak percaya.
…
Mas Redjo

