| Red-Joss.com | Memasuki wilayah Kademangan Ki Gento, hati Mas Cantrik jadi tidak tenang. Benarkah Nyi Suci diculik orang suruhan Ki Gento? Jika hal itu terbukti, bara permusuhan itu cepat atau lambat pasti berkobar dan menghanguskan!
Tugas utama Mas Cantrik adalah mencari kebenaran desas desus itu. Ia tak mau dicurigai dan dilibatkan dengan misteri raibnya Nyi Suci. Ia harus menjaga kehormatan dan nama baik Padepokan. Bagaimana ia mampu menelusuri, jika semua itu masih kabur dan tidak jelas?
Ternyata Kademangan Ki Gento itu lebih luas dan besar, dibandingkan dengan tempat Ki Demang. Bangunannya juga mentereng. Mas Cantrik jadi penasaran, mengapa Ki Demang menolak adiknya dipinang Ki Gento?
Padahal, Ki Gento itu kaya raya dan terhormat. Jika mencari calon untuk anaknya itu hal mudah, ibarat ia membalikkan telapak tangan sendiri.
“Ada apa dengan Ki Demang?” Mas Cantrik ragu dan makin penasaran dengan kabar yang dihembuskan Ki Demang. Lalu, ada di manakah Nyi Suci kini?
Mas Cantrik mengamati bangunan bak istana Ki Gento. Di mana-mana tampak penjaga. Sehingga sangat kecil kemungkinan dapat disusupi orang asing tanpa ketahuan.
Ia berpikir keras. Ia tak mempunyai teman yang bekerja di lingkungan Kademangan Ki Gento. Jika ada kenalan ia ingin membantu kerja, sekadar ‘ngenger’. Sekaligus untuk mencari dan mengumpulkan informasi.
Begitu pula saat Mas Cantrik ngopi di warung, atau minum tuak bareng orang-orang yang tampak sangar itu. Ia tidak mendengar desas desus hilangnya Nyi Suci. Ia juga gagal untuk memancing atau mengorek keterangan dari mereka yang mulai mabuk.
“Apakah besok aku harus mengikuti lomba kanuragan di lapangan?” tanya Mas Cantrik pada diri sendiri. Dengan menjadi pasukan pengawal Kademangan Ki Gento tentu lebih leluasa untuk menyusup.
Woro-woro Ki Gento mengadakan lomba kanuragan itu didengar Mas Cantrik sebelum memasuki wilayah Ki Gento. Dilaksanakan besok pagi. Peserta lomba untuk jadi pasukan pangawal itu usianya tidak dibatasi dan bisa langsung mendaftar.
Hati nurani Mas Cantrik terpanggil untuk mengikuti lomba itu. Peluang emas yang layak diikuti untuk menguji kemampuan, setelah lama tidak pernah berlatih lawan tanding.
Tapi betapa kaget hati Mas Cantrik pagi itu. Ketika ia hendak menuju tempat pendaftaran, pandang matanya tertuju pada lelaki baya yang tempo hari membuntutinya!
Sesungguhnya, siapa lelaki itu? Ia suruhan Ki Demang atau anak buah Ki Gento? Ia juga mau ikut lomba?
Mas Cantrik mencoba menghindar dari lelaki itu. “Semoga ia tidak melihatku,” harap Mas Cantrik. Ia ragu untuk segera mendafar. Ia ingin melihat situasi. Sekaligus melihat calon musuh yang bakal dihadapi nanti.
Belum hilang dari kekagetannya, tiba-tiba diumumkan peserta lomba untuk naik ke atas panggung. Ternyata lelaki yang membututinya itu!
“Jika lelaki itu anak buah Ki Gento, mengapa ia mengikuti lomba? Berarti ia anak buah Ki Demang. Ia membuntutiku dan ingin menyup ke Kademangan Ki Gento!” pikir Mas Cantrik.
Mas Cantrik penasaran, sekaligus makin semangat. Ia harus mampu menguak misteri raibnya Nyi Suci!
…
Mas Redjo

