Simply da Flores
…
Senja ini aku datangi lagi
Taman bersejarah Tugu Proklamasi
Ada banyak suasana berubah
Penataan taman dan penjagaannya
layak sebagai situs penuh makna
tonggak sejarah lahirnya NKRI
Tidak lagi kumuh terlupakan
Tidak lagi jadi hutan yang angker
Tidak lagi sarang kucing dan tikus
Tidak lagi parkiran gerobak pemulung
Tidak lagi rumah para gelandangan
Tidak terlupakan dan diremehkan lagi
“Proklamasi…”
Kudengar menggelegar lantang suara menggema
Kumandang teks Proklamasi NKRI
terus menggelora ke delapan penjuru tanah air Indonesia
berkilau menulis sanubari pewaris bangsa
menghempas pantai jiwa anak negeri
mengukir lembaran kesadaran putra-putri pewaris bangsa
Namun
sampah zaman berserakan merebak
Jalanan utama hingga selokan parit
Tumbuhkan bukit dan padang keserakahan
Kotori nurani para pemuka dan pejabat
Lahirkan cerita panjang korupsi
beranak pinak sampah kehidupan
menodai iman dan adat budaya
Yang sering diselesaikan dengan kata-kata
oleh para penguasa dan pejabat buta
Cerdik pikiran, tanpa nurani jiwa
Tugu Proklamasi NKRI
ada di tengah Ibukota kota negara
Tetapi
para pejabatnya jarang mampir di sana
kecuali ada hajatan yang memaksa
atau keperluan meraih suara warga
Mereka sibuk di kantor-kantor mewah
juga di hotel-hotel berbintang
merundingkan aneka kepentingan rahasia
dalam label demi kepentingan bangsa dan negara
demi pembangunan kesejahteraan rakyat
lalu hasilkan sejarah budaya korupsi
Sedangkan
dalam keseharian biasanya senyap
mungkin hanya warga yang bertamasya
sebagai salah satu obyek wisata
lalu bisa berfoto aneka gaya
untuk jadi kenangan dan konten media
Proklamasi kemerdekaan adalah sejarah
Tetapi
makna kemerdekaan bangsa NKRI
adalah sampah, debu dan polusi metropolitan
parade langgeng pertarungan kelas sosial
Yang kaya semakin kaya
Yang miskin semakin miskin
Merdeka dari tangan penjajah asing
Terus terjajah oleh bangsa sendiri
sebagai kacung dan kaki tangan penjajah asing
Dibalut kata sakral dan angka mistik
dalam gelombang arus zaman
dari orde lama, orde baru, orde reformasi dan sekarang zaman digital Milenial
Ada serpihan puing tanya
dari pelataran Tugu Proklamasi
tentang makna kemerdekaan bangsa NKRI
dan zaman yang sedang terjadi
khususnya dalam masa pemilu 2024
Entah apa nama ordenya
Apakah masuk zaman edan
Apakah sedang zaman sontoloyo
Apakah zaman gemerlap digital
Ataukah zaman “rujak dan gado-gado”
Seperti wajah kota hingga pelosok
dipenuhi spanduk, stiker dan selebaran
para caleg, calon senator dan Capres-cawapres
pada musim pemilu dan pancaroba politik
“Teks Proklamasi diam bisu
diapit dua patung Proklamator
Makna kemerdekaan seperti musim pancaroba dan aneka polusi yang terus mencemaskan”
…

