| Red-Joss.com | Mendekati simpang jalan menuju arah Padepokan dan Kademangan Ki Gento, Mas Cantrik menoleh ke arah belakang.
Tiba-tiba mata Mas Cantrik beradu pandang dengan lelaki baya yang berhenti di bawah pohon mangga itu. Tapi ia bersikap cuwek, meski merasa ada yang aneh. Sejak tadi ia melihat lelaki itu seperti menjaga jarak dengannya. Melihat gerak geriknya membuat ia jadi curiga. Membuntuti…, tapi apa tujuannya?
Dada Mas Cantrik berdebar keras. Ia ingat Ki Demang. Bisa jadi lelaki itu disuruh Ki Demang untuk mengawasinya. Ketika ke luar rumah pagi tadi, ia merasa yakin penyamarannya tidak bakal dikenali. Faktanya?
Ki Demang mengawasi rumahnya sejak Nyi Suci diculik? Ki Demang curiga, ia mau pergi ke Padepokan, atau ke suatu tempat. Bisa jadi, Ki Demang curiga, ia terlibat dalam penculikan Nyi Suci?
Mas Cantrik mencoba mengingat-ingat wajah lelaki itu sekiranya pernah bertemu. Wajah itu tampak asing baginya. Sehingga ia tidak mau pusing. Lebih baik ia hati-hati. Untuk selalu ‘eling lan waspada’.
Ia lalu melambat jalannya menuju ke Padepokan. Ia penasaran dan ingin tahu. Apakah lelaki itu searah dengannya secara kebetulan atau memata-matainya.
Sesungguhnya Mas Cantrik ingin ke Padepokan, karena jaraknya tidak jauh lagi. Suasana kekerabatan di Padepokan membuat ia ingin mampir, karena kangen dengan wejangan Guru Bijak.
Tapi, jika ke Padepokan itu tidak mungkin sekadar mampir. Ia tentu ditanggap, dan menginap.
Di sisi lain, ia harus menemukan kejelasan, siapa biang kerok yang menculik Nyi Suci dan apa maksud orang itu? Atau ia mau dijadikan kambing hitam. Ia korban konspirasi?
Sesungguhnya, apa yang terjadi antara Ki Demang dan Ki Gento? Apa sekadar batas wilayah? Hal itu kemungkinannya kecil, apalagi jadi permusuhan yang berlarut-larut.
Mengapa Ki Gento ngotot ingin menjodohkan anaknya dengan Nyi Suci?
Makin dipikir, kepala Mas Cantrik kian berdenyut pusing.
Tugasnya sekarang adalah mencari Nyi Suci dan menemukan kembali.
Ingat Nyi Suci, hati Mas Cantrik jadi rindu!
…
Mas Redjo

