Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Dunia telah menjagokan dua figur keteladanan dan pelayanan: antara Abraham Lincoln (AS) dan Mahatma Gandhi (India).”
…
| Red-Joss.com | Soekarno dan Hatta pernah menunjukkan diri sebagai pribadi-pribadi yang mau melayani rakyat dalam pendirian banyak bagian bangsa.
Mereka dulu disebut โSaudara Soekarnoโ atau โSaudara Hattaโ, bukan โYang Muliaโ seperti satu-dua orang hebat di Republik Indonesia masa kini, demikian BS Mardiatmadja (Kompas, Jumat 26/1/2024).
Sedangkan Sidharta Susila berpendapat, “Hari ini semakin sulit bagi kita untuk memungut tokoh-tokoh bangsa sebagai figur teladan. Membangun karakter teladan bisa dilakukan salah satunya dengan meniru tokoh teladan. India punya Mahatma Gandhi. Amerika punya Abraham Lincoln.(Kompas, Rabu, 24/1/2024).
Pendapat dari dua orang penulis brilian pada kolom Opini dari harian Kompas itu setidaknya mau memberikan aksen pada aspek figur-figur tokoh yang memiliki spirit melayani.
Kolomnis Sidarta Susila pun sempat menyinggung, bahwa pemimpin kita kini doyan menampilkan wajah sendiri dengan menghancurkan wajah orang lain (atmosfer divide et Impera).
Bahkan selanjutnya, beliau sangat intens memberikan penekanan, bahwa pemimpin hebat perlu melintasi jalan kemartiran adalah jalan penyangkalan egoisme demi kebermaknaan dan kemartabatan diri.
Selanjutnya dikatakannya, jalan kenabian adalah jalan peluruhan egoisme serta pemberian diri dengan kemaslahatan hidup bersama yang lebih bermartabat.
Bertolak dari pandangan dan pendapat kedua kolumnis, bahwa sejatinya figur seorang pemimpin yang melayani adalah figur yang tidak memandang sesamanya sebagai objek belaka. Baginya, semua orang adalah saudara, dan bukan yang mulia atau yang dipertuan agung.
Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang berani melintasi bersama jalan-jalan penderitaan. Dia menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan.
Idealnya, seperti ciri pemimpin yang pernah dilakonkan oleh kedua tokoh dunia, Mahatma Gandhi dan Abraham Lincoln.
Selain itu, pemimpin yang melayani itu harus pula berani melintasi jalan kenabian dan kemartiran, dengan cara sanggup menjadi suri teladan yang berani mematikan egonya sendiri.
Sedangkan seorang pemimpin yang bertindak dan bertutur secara tidak konsisten dan konsekuen, sejatinya bukanlah ciri seorang pemimpin yang melayani.
Karena ciri paling utama seorang pemimpin yang melayani ialah sikap berintegritas. Di dalamnya, ada sikap keutuhan dalam bertutur dan bertindak.
…
Kediri, 27ย Januariย ย 2024

