| Red-Joss.com | Untuk sahabat mudaku yang baru saja tuntas menemani Ibunya kembali kepada Sang Khalik, setelah sakit lebih dari sepuluh tahunan. Juga untuk semua sahabat yang dengan setia telah dan sedang menemani Ibu Bapaknya dalam fase akhir perjalanannya.
“Terima kasih, Nak, telah izinkan Ibumu yang lemah ini bersandar di bahumu yang kuat.”
(Terinspirasi dari Matius 11,28).
Kamu memang selalu datang di waktu yang tepat. Di saat aku, Ibumu butuh pundak untuk bersandar. Ibumu butuh pegangan untuk tangan yang begitu lemah ini. Di saat aku, Ibumu butuh tempat untuk beristirahat, ketika kaki telah begitu lelah berjalan sendiri. Ya, di waktu yang tepat untuk aku, Ibumu, mencurahkan segala kepenatanku saat itu.
“Terima kasih.” Hanya kata itu yang terucap, namun mengurai begitu banyak rasa dan makna sepanjang hidupnya.
Pakar Psikologi dari University of California, Davis, Robert A. Emmons dalam bukunya yang berjudul “Thanks!: How the New Science of Gratitude Can Make Happier” mengatakan, ucapan terima kasih dapat merajut dan mengikat orang-orang ke dalam hubungan timbal balik serta membimbing individu pada keterikatan secara emosi. Lambert, pakar psikologi yang lain menambahkan, “Seseorang yang mengucapkan terima kasih begitu terbuka pada hubungan sosial, lebih komunal, mau berkorban dan membantu individu orang lain.”
Diucapkan atau hanya tersirat, ‘terima kasih’ selalu membawa kekuatan magis, seperti ‘unspolen words’ Ibu sahabatku itu.
”I’m so honoured and thankful to be your bestfriend…and hoping that it will never end…Happy New Year bapakku…keep on inspiring and touching the people with your magical words …” Respon dari sahabat muda saat saya maknai berterima kasih itu.
Sungguh kisah nyata dan aktual tentang makna ‘terima kasih’.
Jadi sempatkan selalu untuk menyampaikan rasa terima kasih. Tapi mudahkan untuk melupakan dan memaafkan sikap orang lain yang tidak mengatakannya.
Mari menjadi pribadi yang mau ikut berbahagia dan berbagi di dalam setiap kesempatan.
Salam sehat penuh berkat.
…
Jlitheng

