“…hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu,”
…
| Red-Joss.com | Kekudusan dan kemurnian hidup tak akan pernah bisa dicapai, jika mengandalkan hanya pada kekuatan sendiri saja, tanpa bersandar pada anugerah dan kekuatan dari Tuhan. Tanpa Tuhan kita tidak akan mampu!
Paus Fransiskus berbagi refleksi pribadinya tentang kekudusan, “Saya suka merenungkan kekudusan yang hadir dalam kesabaran umat Allah: hadir dalam diri orangtua yang membesarkan anak-anak mereka dengan kasih yang besar. Dalam diri pria dan wanita yang bekerja keras demi keluarga-keluarga mereka. Yang hadir dalam diri orang-orang sakit yang tak henti berharap sembuh namun tak berdaya. Dalam diri kaum religius yang berusia lanjut, tetapi tak pernah kehilangan senyum mereka. Kekudusan militansi Gereja yang hadir dalam ketekunan mereka sehari-hari, dan saya melihatnya.
Kekudusan itu tidak jauh dari kita. Jalan ke sana melalui pergumulan harian kita.
Banyak suami yang saat ini menemani istrinya sampai tempat kerja. Bukan karena tidak bekerja lagi, tapi ada yang ingin diperbaiki. Kata menemani mengganti kata mengantar. Sebagai pilihan untuk hidup ‘kudosh’ (Ibrani: naik ke level lebih tinggi).
Saya pribadi, sejak 4 tahun yang lalu memilih menemani istri berangkat kerja sampai kantornya. Kemudian balik untuk mengurus pekerjaan sendiri. Saya ingin, (walau tak mungkin), melakukan silih untuk 10 tahun istri mendampingi tumbuh kembang 2 anak gadis dari pagi ke pagi. Memandikan, menyusui, mengganti popok jika pup atau pipis, ngobrol, nyanyiin kalau anak rewel, mengajari bicara, berjalan, etika pergaulan, berdoa. Dari hari ke minggu, ke bulan dan sampai 10 tahun. Sebagai suami, dulu saya menjalani P5, pergi pagi pulang petang dan pergi lagi, urusan pelayanan.
Yang ingin saya murnikan adalah cara pandang dan cara saya menghargai istri. Dengan perubahan itu, saya ingin meningkat ke level ‘kudosh’, makin dekat dengan standar umat Allah yang baik.
Demikian juga dengan para Ibu, termasuk yang ‘single parent’. Seperti yang telah banyak saya ceritakan. Ibu yang menemani anaknya, melatih berdoa, bekerja, … itulah jalan menuju level ‘kudosh’.
Makin tekun mendekatkan hidup dan pekerjaan kita dengan kehendak Allah, hidup kita makin dimurnikan dan makin ‘kudosh’ di hadirat-Nya.
Salam sehat dan tetap semangat berbagi cahaya.
…
Jlitheng

