| Red-Joss.com | Seharusnya Mas Cantrik menjadi lega, karena Nyi Suci menyerahkan sepenuhnya persoalan itu padanya. Tapi anehnya, hatinya tidak tenang. Firasat buruk itu membuatnya risau. Ingin rasanya segera bertemu Ki Demang agar masalah itu cepat selesai, dan beres.
Ternyata firasat buruk itu menjadi nyata dan terbukti. Ki Demang tetap pada pendirian agar ia menikahi Nyi Suci dan ia jadi kepercayaannya!
“Berarti saya tidak boleh membuka praktek lagi?”
“Ya, karena kau akan tinggal di lingkungan Kademangan.”
Mas Cantrik diam. Permintaan atau tepatnya titah Ki Demang itu tidak bisa dibantah. Ki Demang juga malu, jika iparnya tetap membuka praktek pengobatan.
Padahal dunia pengobatan itu jalan hidupnya. Ia ingat dengan kedua orangtuanya yang meninggal tanpa diketahui penyakitnya. Tapi ada orang yang bilang, kena santet. Diguna-gunai, karena ada orang tidak senang pada usaha dagang orangtuanya yang semakin berkembang.
Mas Cantrik percaya, orangtuanya meninggal, karena sakit. Ia lalu memutuskan ‘ngenger’, tepatnya belajar di Padepokan Guru Bijak mengenai tanaman obat agar kelak dapat mengobati orang.
Selain belajar ilmu obat, Mas Cantrik juga olah kanuragan untuk jaga kesehatan. Karena rajin dan belajar dengan kesungguhan hati, ia cepat menguasai ilmu-ilmu itu dan dipercaya Guru Bijak untuk membantu-bantu melatih di Padepokan.
Kini Mas Cantrik diminta untuk tidak membuka praktek. Hal ini sungguh tidak pernah dibayangkan olehnya. Hati kecilnya berontak, karena ia tidak bisa menolong dan mengobati orang lain. Terbayang olehnya wajah kedua orangtuanya yang sedih dan protes kepadanya!
Mas Cantrik mengeraskan hati. Keputusannya bulat, jika ia tidak diperkenankan membuka praktek pengobatan, lebih terhormat, jika ia dirajam!
Dihelanya nafas perlahan-lahan untuk mengumpulkan kekuatan dan keberanian. Ditatapnya Ki Demang. Karena kesembronoan dan lepas kontrol itu berakibat fatal. Ia harus rela mempertanggung jawabkan perbuatannya itu!
“Mohon maaf, sekiranya hendak dirajam, saya siap Ki Demang. Saya mengaku salah,” kata Mas Cantrik berusaha bersikap tenang.
Ki Demang terperangah. Ia tidak menyangka Mas Cantrik keukeh dengan pendiriannya.
“Kau serius? Semua itu sudah kau pikir baik-baik?” Ki Demang mencoba bersikap tenang untuk menguasai rasa kagetnya.
“Ya!”
Ki Demang tertawa ngakak sambil menggelengkan kepala.
“Ternyata, jika aku tetap memilihmu berarti salah orang! Kau demikian bodoh. Kau lebih pilih menderita, ketimbang hidup senang.”
“Ya, memang saya orang desa yang paling bodoh.”
“Baik. Jika itu menjadi pilihan dan keputusanmu,” kata Ki Demang serius. Wajahnya tanpa ekspresi.
Ki Demang memanggil pengawal untuk masuk ke ruangan.
“Panggil Adinda Nyi Suci ke sini. Cepat!”
“Sendika, Ki Demang!” Pengawal itu tergopoh-gopoh segera ke luar.
Hati Mas Cantrik berdesir. Ada apa Ki Demang memanggil Nyi Suci?
Tidak berapa lama Nyi Suci muncul bersama pengawal itu.
“Ada apa, Kangmas?” Nyi Suci memandang Ki Demang dan Mas Cantrik. Wajah mereka tampak tegang, dan seperti tak bersahabat!
“Nyimas, supaya kau juga tahu. Mas Cantrik memilih hukuman rajam,” suara Ki Demang bergetar menahan amarah. “Supaya aku tidak pilih kasih, hukum itu harus ditegakkan. Kau pun juga harus dirajam!”
“Kangmas!” jerit Nyi Suci histeris bagai disambar petir. Ia lalu sujud di kaki kakaknya, dan menangis.
Mas Cantrik tidak kalah kaget. Ia sungguh tidak menyangka dengan keputusan Ki Demang.
Seluruh persendian Mas Cantrik serasa bergetar hebat. Hatinya diaduk-aduk antara marah, sesal, dan kehormatannya yang tercabik!
…
Mas Redjo

