| Red-Joss.com | Seleksi menjadi murid Yesus. Indikator layak tidaknya terpilih sebagai murid itu apa?
Seleksi perdana kemuridan pasti tidak memakai ‘psikotest’, tapi ‘track record’. Misalnya, untuk menjadi Kaling itu harus lebih dulu jadi umat yang rajin dan terlibat. Atau untuk menjadi ‘DPH’ itu pasti baik dalam mengurus di level lingkungan dulu. ‘Ora clingkrik’, ujug-ujug jadi. Jika tidak, seleksi model ‘clingkrik’ itu tak akan membuahkan calon murid yang memiliki ‘values’ murid. Yang paling utama adalah:
(1) kesanggupan untuk legowo lepas ‘self-esteem’. Mengapa? Walaupun ‘julig smart’, jika tanpa legowo, jadilah pemburu wow dengan kuasanya.
(2) Jujur. Murid yang diseleksi ini tugas yang utama adalah pewarta kesucian, lewat kata dan perbuatannya. “Show don’t tell!”
Ada falsafah Jawa yang nampaknya sangat diyakini dan menjadi semacam ‘way of life’ seorang Jkw: “Ojo omong (wae) ndak ketok gobloke,” (don’t talk too much” otherwise you look stupid).
Untuk dapat menjalani falsafah itu, dibutuhkan kemampuan batin yang disebut legowo.
Legowo adalah kondisi batin seseorang yang lebih memilih untuk menerima apa pun yang terjadi pada dirinya dengan hati yang lapang.
Legowo bukanlah suatu hal yang datang begitu saja. Legowo tidak diperoleh dari ‘psychotest’ atau menduduki jabatan tertentu. Legowo adalah buah jatuh bangun seseorang selama menjadi abdi Tuhan, umat, dan masyarakat. Legowo tidak mungkin hasil ‘clingkrikan’ alias secara tiba-tiba.
Salam sehat dan terus legowo melepas yang tak perlu.
…
Jlitheng

