Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Dia pun telah mengajari, agar kita tetap tekun dan berani untuk menderita.”
(Amanat Kehidupan)
…
| Red-Joss.com | “Pernahkah Anda mendengar sebuah kisah heroik, seorang yang rela memotong tangan kirinya, demi membuktikan, bahwa dia siap untuk menderita, karena kesalahannya sendiri?”
Di dalam konteks ini, dia justru bertekad untuk rela belajar, bagaimana mengubah kebiasaan buruknya itu.
Jadi, kerelaannya untuk berani menanggung sakit dan derita, bagaikan seorang yang memasuki sebuah lembaga sekolah kehidupan.
Di dalam realitas hidup kita, tidak jarang kita mendengar kisah orang yang nekad menghabisi nyawanya sendiri, karena tak tahan menderita.
Sebagai akibat dari sakit yang menahun, misalnya. Karena dia diberhentikan (PHK) dari tempat bekerja. Atau juga karena alasan sepele, seperti putus cinta, maka seorang tak segan membunuh diri.
Memotret aneka kenyataan serba miris ini, orang-orang yang berkepribadian dewasa dan bersikap terbuka, tentu akan tersentak heran.
Mengapa? Karena mereka hampir tidak dapat mempercayai akan fakta miris dan sikap sadistis ini.
Baginya, orang-orang yang berani membunuh diri adalah para pengecut yang melarikan diri dari kenyataan rasa sakit dan derita.
Ada juga orang yang melarikan diri dari rasa sakit dan derita dengan cara mengkonsumsi narkotik atau melahap minuman beralkohol.
Semoga kita dapat belajar untuk berani menerima segunung kenyataan pahit pedih ini dengan berjiwa besar dan berhati lapang.
Karena pribadi yang bersedia mati konyol adalah tindakan sang pengecut belaka.
…
Kediri,ย 21ย Januariย 2024

