Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hidup ini laksana sebuah titik pada garis tanpa ujung.”
(Refleksi Kehidupan)
…
| Red-Joss.com | Saya sangat percaya dan sungguh meyakini, bahwa hidup kita ini merupakan sebuah karunia Tuhan semata.
Hal ini dapat kita analogikan, bahwa setiap hari Tuhan, Sang Sumber Kasih akan mengirimkan satu potongan baru untuk ditempatkan di dalam ‘jigzaw puzzle’ (permainan gambar yang terpotong-potong dan harus disusun lagi), untuk membentuk sebuah lukisan pribadi utuh.
Anda dan saya pun dibentuk dan diproses, sejak dari potongan pertama, yakni pada hari kelahiran kita.
Setiap hari, Tuhan mengirimkan sepotong demi sepotong, hingga potongan paling akhir, yakni di saat kematian kita.
Ternyata potongan-potongan itu, bentuknya pun sangat bervariasi. Karena sudah disesuaikan dengan rencana Sang Tuhan.
Ada yang berbentuk melengkung, ada yang tajam meruncing, dan ada pula yang bergerigi. Masing-masing sesuai dengan keutuhan rencana Sang Tuhan untuk setiap pribadi.
Ada pun keanekaragaman dari kepingan-kepingan atau potongan-potongan itu, justru merupakan sebuah keutuhan total untuk setiap pribadi, sesuai rencana besar Sang Pencipta sendiri.
Hal ini pun seperti juga prinsip yang terdapat di dalam filsafat China, โyin yangโ, yang sifatnya justru saling memuat dan bukan saling memotong.
Sejatinya Anda dan saya benar-benar hanyalah sebuah titik di atas sebuah garis panjang membentang.
Maka, dapat disimpulkan, bahwa garis hidup dan kehidupan seorang anak manusia, bukanlah sebuah kebetulan.
…
Kediri,ย 20ย Januariย 2024

