Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Sepintas kilas, kata ‘kehabisan’, bermakna “tidak ada yang tersisa lagi, ludes, sudah tidak ada lagi.”
Ada sejumlah frase yang menggunakan kata bentukan/imbuhan ‘kehabisan’, yang justru semakin menegaskan akan kebenaran maknanya.
Semisal: kehabisan kesabaran, kehabisan akal, kehabisan dana, kehabisan tipu muslihat, kehabisan daya, bahkan kehabisan cinta.
Semua frase itu memiliki makna yang sama ialah tidak ada yang tersisa lagi.
Di dalam hidup ini, sering terjadi kegaduhan, di saat orang ‘kehabisan kesabarannya’. Berpikir pendek.
Orang segera bercerai, jika mereka ‘kehabisan daya pikat cinta’.
Atau juga, banyak bangunan yang akan mangkrak, jika sang pimpro ‘kehabisan dana’.
Semua hal ini mau membuktikan, bahwa sesungguhnya, hidup dan kehidupan ini, sungguh terbatas dan tidak langgeng. Karena semuanya itu bersifat sementara.
Bukankah secara rohani spiritual, hal ini mau membuktikan, bahwa di dunia ini, memang tidak ada sesuatu yang langgeng. Tidak ada hal yang kekal nan abadi.
Saya teringat akan pandangan kefilsafatan dari filsuf Heracleitos, “Panta rhei kai uden menei,” artinya segala sesuatu akan mengalir dan tidak ada yang kekal abadi.
Hendaknya, kesadaran dan pemahaman kita manusia, akan realitas keterbatasan ini, mampu menjadikan kita sebagai pribadi-pribadi yang hidup dengan sadar diri. Artinya kita hidup sadar dan ikhlas menerima keterbatasan ini.
Bukankah semua sifat kebijaksanaan itu, justru berawal dari kesadaran diri sang manusia? Itulah pentingnya hidup sadar.
Suatu cara hidup yang dilandasi oleh pemikiran, bahwa kita manusia ini, toh sebagai makhluk yang terbatas.
“Sungguh, berbahagialah orang-orang yang berjiwa miskin.”
…
Kediri, 19 Januari 2024

