| Red-Joss.com | Hati yang peka itu mudah tersentuh dan merasakan apa yang dirasakan oleh yang lain. Yang menarik adalah hati ini bisa belajar dengan cepat untuk menyesuaikan diri dan menangkap peristiwa yang terjadi.
Apa pun yang dirasakan oleh hati, terimalah itu sebagai tanda yang dikirim oleh Tuhan. Jika kita sejenak bisa mengolahnya, maka kita akan merasakan pesan yang khusus itu. Sehingga kita menjadi tahu yang harus dilakukan selanjutnya.
Jika dibiarkan, dan kita tidak mau repot, maka kita bisa kehilangan saat yang istimewa itu. Sesungguhnya hal itu anugerah, jika hati kita mau menangkap pesan yang dikirim itu untuk diolah, dan menilainya. Karena penilaian itu biasanya tepat.
Hendaknya kita selalu melangkah dengan mempertimbangan kata hati dulu. Biasakan hati ini menjadi peka dan mudah tersentuh. Sehingga kita mudah memahami perasaan orang lain.
Hindari sikap merasa benar. Karena dengan adanya orang lain, bisa mengajari dan mengoreksi kesalahan kita. Percayalah hati ini bisa membedakan mana yang benar dan salah. Karena pertimbangan dari hati itu paling jujur, bersih, jernih dan bening.
Belajarnya untuk bersikap tenang dan berpikir jernih agar kita mampu mendengarkan pesan yang dikirim Tuhan untuk hati kita. Pesannya itu bisa lewat semilir angin, suara kehidupan di sekitar, dan bisikan dari kontemplasi doa kita.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

