Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Pada suatu saat, dalam sebuah peristiwa sangat genting, seseorang melontarkan sebuah pertanyaan, “Apa itu kebenaran?”
Setangkai pisau itu memang tajam. Gunting, silet, parang juga tajam. Pedang bermata dua, juga jauh lebih tajam, bukan? Begitu lupa dengan lidah, karena lewat kata-kata, seringkali sangat menusuk hati.
Sesungguhnya hal tersebut di atas itu belum setajam dibandingkan dengan โsebuah kebenaran sejati.โ
Apa itu kebenaran? Dari mana datangnya sebuah kebenaran?
Kebenaran itu ternyata tidak seketika turun dari langit biru. Juga tidak terhempas oleh ganasnya gelombang samudra biru. Namun, kebenaran itu sungguh ada dan hadir di tengah-tengah kita.
Orang-orang yang beragama menyebut dan mengakui, bahwa Tuhan adalah sumber Sang Kebenaran Sejati nan Abadi itu. Artinya, bahwa kebenaran itu hanya berasal dari Tuhan, karena Dia adalah Sang Kebenaran itu.
Kita manusia, sang ciptaan yang berakal budi itu, juga turut kecipratan kebenaran itu.
Kita sungguh yakin dan percaya, bahwa lewat mulut sang manusia berkharisma, kita dapat menerima kebenaran itu.
Anugerah kebenaran itu juga dikaruniakan kepada orang-orang yang jujur dan tulus hatinya. Mereka ibarat sebuah titian atau saluran air kebenaran yang memuaskan dahaga jiwa letih sang manusia dina.
Maka, hingga kini kita mengenal adanya para nabi dan pewarta kebenaran itu. Mereka dipanggil dan diutus untuk mewartakan kebenaran itu.
Baik lewat mimbar keagamaan maupun lewat kesaksian dan cara hidup, mereka bersaksi, bahwa kita harus mewartakan kebenaran itu lewat cara hidup (verba movent, exempla trahunt).
Sungguh sebuah kebenaran itu jauh lebih tajam daripada pedang bermata dua sekalipun. Karena sebuah kebenaran itu berasal dari Tuhan. Kebenaran itu yang akan membebaskan kita dari aneka jerat iblis.
Maka, “Katakan ya, jika itu benar. Katakan tidak, jika itu salah. Karena selebihnya, justru berasal dari si iblis!”
…
Kediri, 16ย Januariย 2024.

