Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kemuliaan terbesar dalam hidup itu tidak terletak pada keberhasilan kita untuk tidak jatuh, tetapi bangkit setiap kali jatuh.”
(Nelson Mandela)
…
| Red-Joss.com | Hari Sabtu, 13/1/2024, harian Kompas menurunkan tulisan berjudul “Optimisme,” pada kolom Karier.
Inti gagasan dari tulisan ini saya turunkan kembali, karena saya merasa penting untuk mengangkat hal โoptimismeโ, sebagai salah sebuah kunci keberhasilan hidup yang sungguh penting.
Apa itu optimisme atau sikap optimisme? Sebuah paham keyakinan atas segala sesuatu dari segi yang baik dan menyenangkan, dan sikap selalu mempunyai harapan baik dalam segala sesuatu.
Mendengar berbagai berita buruk di sekitar kita, mulai dari kejahatan yang kian di luar nalar, ulah para politisi wakil rakyat yang tidak beretika atau pun berintegritas, hingga bencana alam yang datang beruntun, acap kali membuat kita merasa โdownโ.
Kita merasa kehidupan ini tampak suram dan tidak ada daya lagi untuk mengubah dunia. Bila perasaan ini dipelihara terus menerus, kemungkinan kita akan bertumbuh menjadi seorang pesimis yang lebih banyak khawatir terhadap kemungkinan terburuk daripada mempersiapkan agar kemungkinan terbaik dapat menjadi kenyataan (Kompas, 13/1/2024).
Saya menampilkan tokoh paling hebat yang sangat optimis dalam sejarah, yakni Nelson Mandela.
Mengapa? Ia ditangkap dan dipenjara seumur hidup karena aktivitasnya yang menentang rezim apartheid di Afrika Selatan.
Apa yang terjadi? Bahkan selama 27 tahun ditahan, hal itu tidak meruntuhkan keyakinannya, bahwa perjuangan untuk keadilan dan kesatuan di Afsel akan berhasil. Ia bahkan meneguhkan para tahanan lain, agar tetap kokoh dan jangan mau menyerah pada kondisi tekanan ini.
Itulah puncak emas dari sikap optimismenya. Tahun 1990 Pemerintah Afsel membebaskan dia dari jeruji besi.
Ada penelitian ilmiah dari aspek psikologis (John Medina), ahli biologi molekuler, bahwa sikap positif akan mengawetkan kerja otak karena sikap optimistis bekerja seperti otot.
Untuk itu, mari kita membudayakan sikap optimisme dalam diri kita, dengan membangun cara-cara arif, seperti antara lain :
(1) Menghindari sikap menghakimi diri sendiri. Inilah sikap paling konyol di dalam hidup kita.
(2) Fokuskan diri kita pada realitas masa kini serta percaya diri untuk menghadapi masa depan.
(3) Sering-seringlah bergaul dengan orang yang berpikir positif.
Ternyata dengan membangun sikap optimis itu, bagaikan orang membangun sebuah menara pengharapan!
Camkan!
Hanya pribadi-pribadi yang berani menghadap teriknya sang mentari, yang sanggup melihat sebersit sinar terangnya!
…
Kediri, 14 Januari 2024

