Simply da Flores
…
Orang-orang ramai saling mencaci maki
dalam tahapan pemilu negeri ini
demi menegakkan kata demokrasi
Karena memiliki keyakinan pribadi
dirinya dan pilihannya pemilik kebenaran sejati
“Suara rakyat itu suara Allah
maka diyakini halal segala cara
demi meraih kemenangan selera
Termasuk mencaci maki dan mengadili dengan telunjuknya”
Angin berhembus ke sana ke mari
Hujan panas tak menentu
Gempa bumi terjadi berturut
Gunung meletus dan banjir bandang
Mengiringi pancaroba nalar nurani
parade energi selera kuasa
dalam kelana nasib anak bangsa
Sistem kata dan angka ditetapkan
oleh mereka yang mempunyai jabatan
dalam mengelola kewenangan dan kekuasaan
Di bawah pelangi hukum dan aturan
dan sandiwara kata benar dan keadilan
berdasarkan prinsip ketuhanan
demi menjamin harkat kemanusiaan
dan menjunjung tinggi persatuan
Maka
semua dipertontonkan pancaroba nalar
segalanya mencerminkan pancaroba hati nurani
sedangkan sanubari jiwa lara tak berdaya
dalam raga yang kurang gizi terlunta
Karena
kata dan angka tak sesuai kenyataan
Janji manis tidak sungguh dilaksanakan
Entah salah siapa dan sampai kapan?
Penyair menuliskan lara derita anak bangsa
Penulis mengisahkan cerita fakta
Pelukis menggoreskan fakta di kanvas
Dan para musisi jalanan nyanyikan balada
untuk katakan damba jiwa raga
dengan syair dan irama nada
Entah ada yang mendengarkan
Entah adakah arti maknanya
“Dengar… lagu kami anak-anak negeri
Lihat nasib kami
putra-putri bangsa
Yang merana didera derita yang tak bertepi
Yang merintih dirundung lara nestapa
Ke mana lagi kami harus mencari
Di mana lagi kami harus mengadu
Sampai kapankah balada ini berakhir…
Hanya angin dan taufan
yang mungkin mendengar
Hanya ombak dan gelombang
yang mungkin peduli
Balada anak-anak negeri”
Musim dan zaman pancaroba nalar
mungkin tanda kemajuan zaman digital
ataukah penggenapan ramalan “zaman edan”
“anak-anak seperti orang dewasa
bocah-bocah laksana orangtua
Laki-laki jadi ibarat perempuan
Perempuan seperti satria perkasa
Kejahatan dan kebiadaban dipuja sebagai kebenaran suci
Ajaran iman, moralitas dan kebijaksanaan menjadi lelucon dan barang rongsokan
Sang Hyang Agung dijadikan sampah
karena manusia menjadikan diri Tuhan
Sesama manusia dijadikan sarana bisnis dan santapan
Alam lingkungan dikuras dan dihancurkan
lalu digantikan dengan dunia maya
“Manusia menghancurkan hakikat diri
dengan kesombongan pribadi dan ilusi
dalam mengagungkan kecanggihan nalarnya”
Pancaroba nalar dan musim alam
sedang berlomba dan unjuk kekuatan
Apakah manusia sungguh raja penguasa alam raya
ataukah hanya bagian kecil dari jagat semesta
Kecanggihan Iptek digital milenial
apakah penguasa atas hukum alam
bahkan mampu mengubah relasi hakiki
“manusia tergantung mutlak pada alam semesta
karena berasal dari debu tanah
dan seluruh hidupnya dijamin alam lingkungan”
Sang Hyang Agung Maha Mengetahui
tetap tersenyum Maha Pengasih
selalu bijaksana tertawa Maha Penyayang
Dan
mungkin melihat dengan bangga Maha Misteri
karena
segala adanya manusia di bumi
semua isi jagat semesta ini
sejatinya fakta penuh misteri
bagi tanya pribadi yang hakiki
…

