| Red-Joss.com | Seorang sahabat, kemarin, mengirim sepotong doa lewat WhatsApp (WA): “De profundis clamavi ad te, Domine! Domine, exaudi vocem meam!“
(Dari jurang yang dalam, berseru ‘ku padaMu, ya Tuhan!
Berseru ‘ku padaMu, dari jurang yang dalam)
Kaget, membaca doa itu. Mengapa mengirim doanya begitu ‘nggrantes’, sangat sedih seperti sudah kehilangan pengharapan, begitu memelas, seperti itu? Mengapa meratap?
Dia merasa sudah habis, sudah tidak lagi seperti dulu, hilang daya tarik, dan ‘ngabar’. Semesta pun mendukung. Pohon pun tumbang, tebing juga berguguran alias longsor.
Seseorang, dulunya mempunyai kekuatan, kekuasaan, wibawa, dan sebagainya. Tapi sangat mungkin semuanya itu entah perlahan entah tiba-tiba ‘ngabar’.
Segala sesuatu di dunia ini, orang, barang, dan apa pun lainnya, harus dipercaya memiliki kekuatan tertentu. Kekuatan itu saling menguntungkan di satu sisi, namun di sisi lain bila tidak diterapkan secara cermat akan membawa kerugian atau celaka.
‘Ngabar’ seperti sudah disebut di atas, bermakna ‘ilang utawa entek daya kekuatan lan khasiate’. Semua kekuatan yang ada di dalam suatu barang/benda itu, atau juga yang dimiliki oleh seseorang ternyata hilang/habis. ‘Ora sakti’ lagi.
Sehebat apa pun kekuatan seseorang, pada saatnya nanti akan habis atau lambat-laun hilang juga; sama halnya sekuat apa pun angin menerpa, pada saatnya akan mereda.
Perlu diingat, hilangnya daya ini dapat terjadi karena;
(a) memang sudah waktunya,
(b) karena kesalahan yang bersangkutan sendiri;
(c) karena membusuk, makanan, buah-buahan, bunga, misalnya;
(d) ‘mula pancen dikarepake’, memang disengaja atau dimaui, serta
(e) ‘wis kersane kang Mahakuwasa’, sudah tiba nasibnya.
Salam dan amdg (Ad maiorem Dei gloriam)
…
Jlitheng

