Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hanya makhluk manusia yang sanggup menorehkan dan bahkan meninggalkan warisan, berupa tulisan dari ujung jemarinya, di atas pasir pantai kehidupan.”
(Amanat Filosofis)
…
| Red-Joss.com | Secara filosofis, manusia telah mengibaratkan, bahwa kehidupan ini, adalah bentangan pasir pantai.
Di atasnya, sang anak manusia mau memperlihatkan eksistensi dan jati dirinya dengan meninggalkan seuntai tulisan bermakna, sebagai sebuah warisan.
Mari kita ikuti dengan cermat dan seksama, makna terdalam dari ‘dialog antara dua orang pria’ berikut ini!
Di saat keduanya sedang melintas di atas pasir pantai.
Kata sang pria kepada sahabatnya:
“Dulu, ketika gelombang pasang, dengan ujung tongkatku kutulis sebuah kalimat di atas pasir. Orang masih mampir untuk membacanya, dan mereka pun berhati-hati agar tidak terhapus.”
Lalu kata sahabatnya, “Aku pun pernah juga menulis di atas pasir pantai di saat gelombang surut. Tapi ketika gelombang pasang, air laut pun telah melenyapkannya.”
“Tapi katakanlah sahabat, apa yang telah kamu tulis?”
Pria yang pertama menjawabnya, Aku menulis begini:
“Aku adalah dia.
Dan kamu sendiri?”
Kata sahabatnya,
Aku menulis begini:
“Aku hanyalah setetes dari samudra yang besar ini.”
(Sang Pengembara, Chalil Gibran)
Itulah dua buah untaian kalimat filosofis yang tertulis di atas pasir pantai kehidupan ini!
“Aku adalah dia.”
“Aku hanyalah setetes dari samudra yang besar ini.”
‘Aku adalah dia,’ bahwa aku, selaku sang manusia pengembara ini adalah bagian tak terpisah dari semesta raya ini. Di sini, di atas empuknya butiran pasir kehidupan ini, aku pun menyatu dengan alamku, dengan semestaku.
‘Aku hanyalah setetes dari samudra yang besar ini’, merupakan sebuah kesadaran akan eksistensi diri sang manusia. Kesadaran akan kekecilan diri; namun aku ini adalah bagian dari himpunan besar itu. Tanpa kehadiranku, maka himpunan yang besar itu, belumlah lengkap.
Gagasan dasar tulisan ini hendak memaknakan, bahwa sang manusia itu justru menyatu dengan semesta ini. Sekalipun kehadirannya hanya berupa sumbangan kecil, namun suatu yang kecil itu pun merupakan suatu kelengkapan dari semesta ini.
Jadi, kehadiran sang manusia itu, sudah menyatu dan menjadi bagian tak terpisah dari alam semesta ini.
…
Kediri, 10 Januari 2024

