Simply da Flores
…
Atas nama demokrasi
berbagai aksi digelar dalam Pemilu
Termasuk debat capres-cawapres
Pentasan kata-kata pilihan
Ujian membatasi waktu bicara
Panggung tebar pesona pribadi
Sandiwara memainkan peran diri
Momen mengadu seribu topeng
Dan
Rakyat menonton dalam sejuta gaya
lakon permainan dalam acara debat paslon
Ada yang mengatur permainan dan wasit
Ada yang jadi penyiar dan komentator
Ada yang menjadi penonton langsung
Ada yang menjadi pemain debat
Dan
rakyat yang menonton di luar
harus membayar acara debat ini
karena ada bisnis informasi digital
dan iklan dari para sponsor
“Mungkin debat mirip dengan pertandingan tinju dunia”
Rakyat coba dikotak-kotakkan
atas nama warna bendera
atas nama relasi kekeluargaan
atas nama kelompok agama
atas nama asal adat budaya
atas nama kelas sosial ekonomi
atas nama sembako dan uang
atas nama selera dan emosi
atas nama profesi dan gelar sekolah
atas nama umur dan keterpaksaan
atas nama keyakinan para paslon dan tim pemenangan
semua upaya demi meraih kemenangan politik
Sedangkan fakta rakyat berbeda
Kemajuan iptek digital milenial
telah membuka mata pribadinya
sudah melepas belenggu kebodohannya
dan mempertajam nalar pikiran publik
Untuk memahami informasi fakta
untuk mengetahui topeng dan sandiwara
untuk membedakan tipu-tipu dan kejujuran
untuk melihat yang asli dan palsu
Sehingga bisa juga bermain sandiwara
dan membuat pilihan pribadi sendiri
“Calon pejabat kencing berdiri, rakyat kencingin topeng-topeng
Ambil uang dan sembakonya, jangan pilih orangnya”
Para sutradara tertawa terbahak
sambil seruput kopi dan isap cerutunya
Menonton para badut dengan seribu topeng
belajar mengatur kata-kata bicara
berjuang perankan lakon sandiwara
Mereka seolah-olah berseteru
padahal biasa berkawan dan gonta-ganti peran
Karena nanti duduk makan satu meja setelah selesai sandiwara
Karena skenario kekuasaan akan terus memerankan mereka kembali
sebagai badut-badut politik dan ekonomi
Dan
Rakyat tetap merdeka dalam samudra suka dukanya
semakin paham kata dusta dan fakta
“Kami dulu dijajah bangsa lain
Sekarang dijajah bangsa sendiri sebagai kacung oligarki dan penjahat tanpa wajah”
Sandiwara debat dan topeng
bukan hal baru di Nusantara
Karena terpatri dalam pewayangan
sejak zaman purbakala dan kerajaan
Karena sudah dialami selama penjajahan
dan sekarang hanya pengulangan
dengan lakon, kostum dan topeng milenial
Dahulu…
sutradara dan pemainnya bangga
menunjuk wajah dan kekuasaannya
Sekarang…
pembuat skenario dan sutradara
sembunyikan wajah dan sosok diri
dalam kata dan angka-angka
dengan kecanggihan teknologi digital
Lalu,
yang kelihatan adalah para badut bertopang
dalam semua bidang kehidupan
karena diatur sistem, kata dan angka
Demi keuntungan duit harta kekayaan
Demi kelanggengan kerakusan selera
oleh sosok tak berwajah dan nama
Debat paslon ini menghibur rakyat
karena sejatinya akan berbeda faktanya
Anggaran pembangunan NKRI
bukan milik pribadi paslon
APBN ditetapkan bersama legislatif
Aturan dan pengawasan bisa kompromi
Undang-undang sering dilangar sehingga korupsi menjadi budaya
Hukum tumpul ke atas dan tajam ke lawan politik serta rakyat
Legislatif dan eksekutif diatur oleh parpol
karena parpol punya kuasa untuk lahirkan caleg dan paslon
Pemilik parpol bersahabat dengan pemodal
bahkan parpol pun milik pemodal
Maka untuk rakyat zaman now
semua kata-kata saat debat
adalah busa sabun dan iklan judi
Demokrasi memang permainan dan sandiwara
Rakyat tetap penghuni samudera raya
selalu menjadi ombak gelombang
untuk datang menghempas bibir pantai
sehingga bisa melihat puncak gunung janji
dan sampah topeng di hamparan pasir
“Lahirlah negeri dongeng samudra raya
Karena nenek moyang kita orang pelaut
yang mampu menerjang ombak gelombang
untuk meraih pelabuhan damba
dengan panduan bintang, bulan dan mentari
sebagai doa sakti mandraguna
Berpasrah pada takdir Pencipta”
…

