| Red-Joss.com | Musim kampanye di musim penghujan ini menyebabkan bukan hanya jalan jadi licin, tetapi lidah juga, lunyu ilate.
“Sanajan katon kalem tur semanak ananging” si Wahyu Tri Rahayu, caleg angin Surga itu lunyu ilate.
Artinya,” meski tampak santun, halus tutur katanya, namun si Wahyu Tri Rahayu memiliki kemanisan kata yg menyebabkan orang mudah kepleset, karena licin. ‘Lunyu ilate’: mudah janji, tapi mudah membatalkannya.
Makin hari makin menurun ‘roso iwuh pekiwuh (sungkan)
Bola plastik anak-anak yang sering main bola di jalanan sebelah rumah sering masuk pekarangan. Rupa-rupa tingkah mereka untuk segera mendapatkan bolanya itu, ada anak yang mau naik pagar, berteriak minta tolong, dan ada pula yang menggedok-gedok gerbang.
“Pak, lama amat sih! Ambilin bola anak kecil aja susah. Payah!”
Walaupun ada anak juga yang berucap “Terima kasih, Pak.” Tapi lain kali, ketika bola masuk lagi, polanya sama. ‘Ora rikuh dan ora duwe roso pekiwuh’ blas.
Sedihnya, menurunnya rasa segan atau sungkan itu menjalar juga pada orang dewasa. Seperti caleg angin surga tadi.
Dalam dunia pelayanan, watak ‘lunyu ilate’ seperti itu tentu bukan hanya tidak patut, melainkan telah merampas asa yang sudah merayap di dada, terutama umat yang tergantung karena sakit atau faktor lain.
Walau badai silih berganti dalam hidupku, kutetap cinta umat selamanya.
Salam sehat dan ‘ora lunyu’.
…
Jlitheng
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

