“Apa pun peran dan profesi kita untuk hidup sukses dan bahagia itu sesungguhnya sederhana dan mudah, ketika kita komitmen dan konsisten untuk mendisiplinkan kebiasaan baik itu.”
…
| Red-Joss.com | Kata-kata BS itu sungguh menohok kesadaran saya. Kata yang selalu diucapkan untuk memotivasi siapa pun, termasuk mengingatkan diri BS sendiri.
“Agar tidak sekadar kata tanpa isi, tapi saya juga harus menjalani dan menghidupinya,” ungkap BS. Menurutnya, memahami perbuatan baik, tanpa menjalaninya itu omong kosong.
Jujur, dari BS, saya banyak belajar. Hidup keluarga BS yang harmoni dan bahagia itu buktinya.
Dari BS, saya menerapkan laku hidup jujur, ulet, dan prihatin dalam mengelola usaha pembuatan roti.
Jujur itu fondasi utama agar saya dipercaya pemasok barang, karena tepat waktu dalam pembayaran. Dipercaya pelanggan, karena saya menjual roti dengan bahan-bahan pilihan dan berkualitas prima.
Ulet itu mengajar saya menjadi inovator yang kreatif. Tidak mudah menyerah dalam menghadapi persaingan pasar dan tantangan. Tapi agar saya terus berinovasi untuk memberikan yang terbaik pada pelanggan.
Laku prihatin itu mengajar saya untuk tidak silau dan kagetan, ketika usaha jadi maju dan sukses. Sehingga lupa diri untuk memanen hasil usaha itu lebih cepat, berfoya-foya, dan boros. Tapi, dengan laku prihatin itu agar saya selalu rendah hati, sederhana, dan tidak sombong.
Laku prihatin itu juga mengajari saya, bahwa sesungguhnya rezeki yang kita peroleh, apa pun usaha atau pekerjaan yang dijalani itu tidak melulu milik kita. Bisa juga sebagian rezeki itu milik istri, anak, karyawan, atau fakir miskin yang dititipkan Allah pada kita. Tujuannya agar kita tidak lupa untuk bersyukur dan berbagi pada orang lain.
Selalu bersyukur dan rendah hati agar rezeki kita dicukupkan oleh-Nya.
…
Mas Redjo

