| Red-Joss.com | Epifani mengingatkan kita agar kalau jadi Katolik itu harus berkualitas, jangan hanya ‘anut grubyuk ora ngerti rembug’. Berkelas seperti tiga raja, beriman dengan cerdas.
Pepatah ‘anut grubyuk’ ingin menggambarkan orang yang hanya suka ikut-ikutan, tapi sesungguhnya tidak mengetahui atau memahami apa yang diikutinya itu. Ia hanya ikut-ikutan, karena ingin mendapatkan teman, diakui orang lain, ingin diberi tempat, dan sebagainya. Padahal dia tidak mengerti apa yang diikuti atau yang dilakukan orang lain.
‘Anut grubyug’ biasanya memang dilakukan seseorang, karena didorong oleh faktor, supaya dikatakan gaul. Terlebih dalam tahun politik ini. Banyak opini yang abal, komen juga abal.
Dua hal yang menjadi inti permenungan Epifani:
(1) Tuhan yang menampakkan kemuliaan-Nya.
(2) Jawaban dari manusia seperti 3 raja dalam iman dan kasih.
Tetap belajar dari ‘apa atau siapa’ yang dapat menjadi bintang penuntun. Semestinya dari penuntun hidup yang berintegtitas. Tidak harus dari pejabat resmi. Sebab pejabat seperti Herodes, belum tentu bisa memberi pentunjuk, karena di dalam hatinya ada motif asli untuk dirinya yang ditutupi dengan motif seolah-olah untuk mengabdi.
Pesan Epifani, ibarat pohon Kates yang tumbuh di sela-sela tembok: didesak, dipepet diinjak pun, kalau spirit hidupnya tinggi, cari pletekan (rekahan) juga untuk tumbuh dan berbuah. Meskipun tidak besar, dan dengan susah payah, tapi tersenyum puas: “loe gak nyangka kan, aku berhasil juga.” Karena Tuhan memberi hujan dan panas pada semua, baik bajingan maupun malaikat, yang hitam maupun putih, tinggal siapa yang menjawab kasih-Nya. Sebab kasih itu bukan kata-kata, tapi tindakan nyata. Inilah semangat Epifani sejati. Tetap berbuah dalam sikon sulit pun dan tidak mudah nyerah.
Salam sehat dan beriman dengan hening dan wening.
…
Jlitheng

