Oleh : ririz seno
| Red-Joss.com | Negeri Nusantara terkenal sangat kaya dengan ragam budayanya. Moyang kita terus berupaya merumuskan agar keragaman itu tetap utuh dalam satu kesatuan yang penuh harmoni, hingga lahirlah pemikiran cemerlang semboyan sakti “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa” dalam kitab Sutasoma. Yang kurang lebih artinya berbeda-beda tetapi tetap satu juga, tak ada pengabdian yang mendua.
Ragam sejarah kuno wilayah Sunda, sampai sekarang masih menarik untuk dikaji dan dirunut lebih dalam lagi. Banyak ahli sejarah terus mencari data-data dalam artian kaidah disiplin ilmu sejarah, arkeologi dan filologi, terutama dari sisa peninggalan megalitikum dan naskah-naskah Sunda, yang sampai sekarang dirasa masih kurang kelengkapannya.
Sundayana
Ada beberapa ahli yang berpendapat mengenai sejarah Sunda, baik merujuk pada pengertian budaya, ajaran, etnis, geografis, sosiologi maupun administrasi pemerintahan. Bila kita jabarkan satu persatu tentunya sangat panjang sekali. Namun di sini penulis mencoba menelusuri hal-hal yang substansi dulu, dengan tujuan setidaknya mengenal, juga mengingatkan tentang sejarah moyang Nusantara. Mengutip kitab โSastrajendra Hayuningratโ, kata SUNDA dibentuk oleh tiga suku kata yaitu SU-NA-DA yang artinya adalah:
โ SU = Sejati / Abadi
โ NA = Api / Penerang
โ DA = Besar / Gede / Luas/ Agung
Dari rangkaian sub kata di atas, bisa diartikan menjadi rangkaian kalimat “Penerang Besar Yang Abadi”, yang tidak lain maknanya adalah Matahari atau Sang Surya = Panon Poe, Mata Poe, Sang Hyang Manon.

Sedangkan kata โSastrajendra Hayuningratโ berasal dari kata Su-Astra-Ajian-Ra-Hayu-ning-Ratu, memiliki arti: su (abadi), astra (sinar), ajian (ajaran), ra (matahari – Sunda – Greek Mesir), hayu (selamat), ning (dari), ratu (maharaja). Dengan demikian โSastrajendra Hayuningratโ, jika diartikan secara bebas adalah โMatahari Penerang yang Abadi – Kebaikan dari Sang Maharajaโ.
Mengulik dari wawancara dengan warga di Pasundan / Parahyangan, Leluhur Sunda mengajarkan tentang prinsip kejayaan dan kekayaan sebuah negara sebagai berikut :
โGunung kudu pageuh, leuweung kudu hejo, walungan kudu herang, taneuh kudu subur, maka bagja rahayu sakabeh rahayatna, (gunung harus kokoh, hutan harus hijau, sungai harus jernih, tanah harus subur, maka tentram damai sentausa semua rakyatnya). โGunung teu meunang dirempag, leuweung teu meunang dirusakโ (gunung tidak boleh dihancurkan, hutan tidak boleh dirusak)
Menelisik apa itu Jati Sunda / Sundayana. Jati Sunda adalah kepercayaan orang Sunda, ‘sebuah Agama lokal dalam tanda kutip’ dari Nagara Sunda. Kitab Suci Jati Sunda disebut Layang Salaka Domas yang diartikan sebagai “Kitab Suci Delapan Ratus Ayat” yang terdiri dari Kitab Sambawa (hidup dari semenjak lahir), Kitab Sambada (dewasa sampai tua) dan Kitab Winasa (kematian serta kehidupan di alam hyang). Ajaran Jati Sunda yg terdapat dalam Kitab Layang Salaka Domas disebar di Tanah Sunda pertama kalinya oleh seorang tokoh yang menyandang nama “Mundi Ing Laya Hadi Kusumah” setelah Dia mendapatkannya dari “Jagat Jabaning Langit”, yang berarti “seseorang yang telah mampu mengusung tinggi tentang kematian, setara indahnya bunga dan seseorang yang telah mampu menguasai hawa nafsunya seraya meninggalkan ihwal keduniawian.” Sampai saat ini siapa nama sebenarnya dari yang tersebut itu belum ditemukan di Carita, Pantun atau Prasasti apa pun. Namun penulis pertama Ajaran Jati Sunda ke dalam sebuah kitab adalah Rakean Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu, Raja Nagara Sunda yang terkenal Arif Bijaksana sebagai Resi.
Bisa jadi menurut penulis pribadi, Sunda awalnya bukan suatu daerah dan bukan suatu penamaan etnis dalam suatu wilayah Jawa bagian barat, namun lebih ke suatu kebudayaan kepercayaan kearifan lokal yang terus berkembang secara dinamis.
Kala di sekolah dulu pernah belajar ilmu bumi, dikenal pula istilah Sunda Besar dan Sunda kecil. Pengertian Sunda Besar merupakan himpunan pulau-pulau yang berukuran besar, yaitu terdiri atas Sumatra, Jawa dan Madura, dan Kalimantan.
Sedangkan Sunda Kecil adalah pulau-pulau yang berukuran kecil yang kini termasuk ke dalam Provinsi Bali, Nusa Tenggara barat, Nusa Tenggara Timur, dan Timor (Bemmelen, 1949; 15-16). Tentang hal ini, kalau dibahas tulis Sunda pada pengertian ilmu bumi tentu akan sangat panjang.
Bersambung Bagian 2
…


Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.