| Red-Joss.com | Jika boleh bersaksi tentang hidupku ini, saya ingin berbagi tentang perjalanan yang seolah bisa kukendalikan sendiri.
Untuk menjalani hidup, saya hanya fokus pada yang bisa saya kendalikan, dan melupakan apa yang tidak bisa saya kendalikan.
Sesuatu yang mengesankan pikiran dan keyakinan ini, di akhir tahun 2023 ini.
Bertahun-tahun saya percayai ini: berjuang dalam hidup itu cukup fokus dengan apa yang bisa saya kendalikan. Apa yang di luar kendali, mungkin tidak terpikirkan. Mungkin hanya akan berlalu saja. Tapi terhadap apa yang bisa saya kendalikan, tentu saya akan mengusahakannya. Jika hal itu di-teguh-i maka siapa pun menjadi cepat berhasil dan berbahagia.
Saya berprestasi baik, karena teguh dan gigih dengan keyakinan itu.
Saya bahagia, karena berjuang hingga mendapat apa yang saya inginkan.
Saya percaya, bahwa hidup ini adalah tentang bagaimana saya melakukan sesuatu dalam hidup. “Tidak salah, bukan? Dengan konsep itu, hidup dan diri ini tampak lebih heroik. Mengagumkan, bukan?”
Dengan konsep hidup semacam itu, terlihat, betapa hidup ini dapat diperjuangkan dengan sangat rasional, dan terkendali.
Seolah tanpa Dia, saya bisa. Tanpa Dia, saya bahagia, dan tanpa Dia, saya berharga.
Hingga pada suatu ketika saya ditegur oleh suara batinku lewat Daud (2 Samuel 7: 18)
Lalu masuklah raja Daud ke dalam, kemudian duduklah ia di hadapan Tuhan sambil berkata: “ Siapakah aku ini, ya, Tuhan Allah, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?”
Daud, dengan prestasinya yang tak tertandingi kala itu: merobohkan simbol musuh bangsanya, Goliat, dengan cara yang tak masuk akal, jadi raja yang dipuja rakyatnya, membangun Bait Allah yang megah dan indah. Namun tetap merasa diri “bukan siapa-siapa” dihadapan Tuhan.
Hanya dia yang memiliki ‘intellectual’ dan sekaligus ‘spiritual humility’ seperti Daud yang mampu bersikap “bukan siapa-siapa. Tidak adigang-adigung” di hadapan Hyang Agung Sejati.
Prestasi seorang hamba Yahwe seperti Daud, diukur bukan dari kedigdayaan manusiawinya, bukan dari berapa banyak yang dimiliki, berapa banyak yang dinikmati, dikagumi, dan berapa banyak dihargai. Melainkan seberapa besar bisa menyenangkan hati Allah, seberapa besar dapat menjadi sahabat bagi mereka yang tak berdaya, merasa ditinggal, tidak disukai, takut dan cemas menjalani asa hidupnya, tidak bahagia, tidak beruntung, dan merasa gagal dalam perjuangannya.
Bernafas sejenak diakhir tahun 2023 ini, kami (saya, istri, kakaknya, suami kakak dan satu anaknya), dengan menjalani safari seduluran, membawa sapa empati dari ujung lampung yang satu ke ujung yang lain, hanya dengan satu maksud “membesarkan hati para sedulur yang merasa terpuruk oleh aneka sebab, yang membuat mereka merasa jauh dari Allah dan merasa kurang dicintai oleh-Nya.”
Perjalanan kami berakhir pada jam 21.00 ketika kami beranjak pulang dari rumah saudara yang berada di lereng sebuah bukit, jauh letaknya dari Telukbetung, singgahan kami sebelum kami tutup lembar terakhir tahun, 31 Desember 2023.
Dalam setiap persinggahan, mulai dari Teluk, Panutan, Lambauw, Karanganyar, Karangrejo, Brebes, Kemiling, Bukit Sukaramai, kami nyalakan lagi sumbu iman yang meredup, bahwa “Allah senyatanya tak pernah jauh, Allah selalu setia, Allah selalu dekat menopang kita.
“… and friends just can’t be found, like a bridge over troubled water, i will lay me down.”
Selamat tinggal 2023 dan kita sambut 2024 dengan hati yang lebih besar.
…
Jlitheng

