“Good leader is sit in a circle and last to speak.” – Rio, Scj.
…
| Red-Joss.com | Nelson Mandela pernah diwawancarai wartawan BBC. “Bagaimana Anda belajar menjadi pemimpin yang hebat?” Ia pun menjawab, “Saat pergi bersama Ayahnya dalam pertemuan suku, ia ingat dua hal: “Always sit in a circle and the last to speak.”
Jawaban singkat Nelson Mandela ini mengajari kita tiga hal.
Pertama: mendengarkan. Banyak dari kita ingin didengarkan dan tak mau mendengarkan. Dimengerti, tapi tak mau mengerti. Dipahami, tapi tak mau memahami. Dicintai, tapi tak mau mencintai. Inilah penyakit kronis kita sekarang ini. Oreintasinya yang semula adalah I … I … dan I, dirubah menjadi Y (You).
Kedua: tidak cukup belajar mendengarkan, tapi belajar untuk menjadi yang terakhir berbicara. Perhatikan saat kita rapat, banyak yang mau berbicara, bahkan banyak pemimpin seperti itu. Belajarlah menahan diri sampai semua orang berbicara. Ingatlah dua hal ini untuk menjadi yang terakhir bicara:
- A: berilah kesempatan orang berbicara, ini akan memberi perasaan, bahwa mereka telah didengarkan dan rasa bahwa mereka telah berkontribusi.
- B: ambil manfaat dari mendengarkan, ‘to keep your opinions to yourself’. Jika kita setuju jangan mengangguk, sebaliknya jika tidak jangan menggelengkan kepala. Cukup duduk di sana, terima semuanya, yang boleh adalah mengajukan pertanyaan untuk memperjelas. Akhirnya giliran kita terakhir berbicara. Itulah yang dilakukan Nelson Mandela. Sang pemimpin teladan.
Ketiga: berbuatlah, bertindaklah, karena tindakan lebih besar pengaruhnya dari sebuah ucapan. Tebarkan kebaikan, maka kebaikan itu akan mendatangi kita. Tidak semua hari baik, tapi selalu ada yang baik setiap harinya.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

