| Red-Joss.com | Tabir masa lalu sering membawa kenangan yang dalam, kadang pahit, tapi sering kali juga manis. Memiliki kemampuan untuk melepaskan diri dari belenggu masa lalu merupakan langkah penting dalam perjalanan pribadi seseorang untuk menjadi lebih kuat dan bijaksana.
Di tengah-tengah kehidupan yang penuh tantangan, seseorang bisa terjebak dalam ingatan akan kegagalan, kekecewaan, atau kesedihan yang terjadi di masa lalu, karena fakta yang membelakangi harapan, kecemasan yang mengurung sukses terpenggal.
“To know what life is worth you have to risk it once in a while.” – Jean Paul Sartre
“Untuk mengetahui betapa berharganya hidup ini, Anda harus mengambil resiko sesekali.”
Resiko apa?
Resiko dengan melepaskan hal-hal yang membuat kita terperangkap dengan masa lalu kita, yakni : KEINGINAN
selalu merasa FAVORIT
selalu merasa dicintai
selalu merasa diFollow
selalu merasa dikagumi.
Kecenderungan ingin jadi favorit, dikagumi, difollow memang lumrah terjadi dalam lancah politik. Tetapi Gereja bukan partai, bukan organisasi biasa, sehingga tidak layak dikelola dengan semangat partai, berlomba mengejar favoritisme.
“The true spirit of Church resides in the act of giving not getting. It’s about giving of ourselves – our time, emphaty, belongings – to uplift others.” – Jlitheng.
Kemampuan untuk memberi tentu saja tidak sulit bagi mereka yang memiliki kuasa dan harta, tapi hanya akan menjadi the ‘true giving’, jika spirit yang melandasi adalah anawim (patuh pada kehendak Allah) seperti Bunda Maria dan para gembala, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah kehendak-Nya.”
Maria adalah teladan sempurna bagi semua yang karena perannya menjadi leader untuk umat Allah. Peluang Maria untuk menjadi favorit sangat terbuka, tapi Maria tidak pernah tergiur dan ia patuh pada sikap hatinya. “Siapakah aku ini, sehingga Allah memilihku?”
Semangat anawim (patuh pada Allah dan melepas nafsu cinta diri) seperti bunda Maria saja yang akan melahirkan damai sejati.
Andaikata semua kita, yang telah menyatakan diri ini sebagai hamba, niscaya komunitas kita akan dipenuhi damai.
“Will you?” Akankah kita menjadi pembawa damai itu? Lepaskan dulu nafsu ingin selalu favorit.
Salam sehat dan Selamat Tahun Baru 2024
…
Jlitheng

