| Red-Joss.com | Sejak belia, aku sudah mengenal cinta. Saat aku menggagumi teman sekelasku. Dia cantik, lembut, dan menarik. Aku yang masih belia, selalu tersipu saat melihatnya. Tidak berani mengungkapkan cinta, karena masih belia, dan tidak berani. Malu!
Di usia remaja kuberanikan mengirimkan surat cinta. Dag dig dug, ketika harus menunggu jawabnya. Akhirnya cintaku dijawab, dan aku mulai bangga mempunyai pacar. Cinta dipelihara dengan saling sapa lewat sepucuk surat, karena dipisahkan oleh jarak. Rasanya setiap menerima sepucuk surat dari si doi, oh, terasa sekali bahagianya.
Karena ada satu yang dicintai, maka ada yang tersingkirkan. Sebenarnya ada yang jatuh cinta selain dia. Hati ini juga menyimpan cinta untuk yang lain. Tetapi tidak bisa, karena terikat oleh cinta yang sudah ditanggapi.
Akhirnya, waktu terus berlanjut, mulai gelisah dan harus memilih antara cinta ke “dia” atau ke “Dia”? Sama-sama berat, jika harus ditinggalkan. Sama-sama menyenangkan, jika harus diikuti. Tetapi memang tidak boleh memiliki keduanya dalam waktu yang bersamaan. Itu namanya selingkuh.
Ketika, mulai memilih ke “Dia”, yang sejak belia pula telah memanggilku. Cukupkah sampai di sini tentang rasa cinta itu? Oh, tidak …
Selalu saja ada pribadi yang cantik, lembut, menarik, dan membuatku, memang tidak harus jatuh cinta, tetapi menggetarkan hatiku. Ini terjadi saat aku sebagai frater, atau bahkan sepanjang perjalanan imamatku mulai dari Jakarta, Filipina, Palembang, dan sekarang di Hong Kong. Ada pribadi-pribadi yang menggetarkan hatiku. Kadang membuatku berpikir sejenak tentang “dia”.
Setiap saat, diingatkan lagi untuk mengikuti “dia” atau “Dia”? Begitulah yang terus terjadi dalam pergulatanku.
Hingga di tahun ke-27 hidup membiaraku pada hari ini, aku tetap terus memurnikan makna dari “Kaul Kemurnian” itu. Tetap tidak bisa dilupakan kenangan manis dengan “dia” yang pernah dicintai. Tetap ingat dengan “dia” yang kuketahui mencintai, tetapi tidak pernah terungkap. Kepada “dia” yang pernah menggetarkan hatiku, tetapi aku tetap menyimpannya di hatiku ini.
Terima kasih, ya, Tuhan Yesus. Sejak pertama Engkau memanggil, aku tetap diberi kebebasan untuk berproses memurnikan cintaku untuk-Mu atau untuknya. Aku juga bersyukur Tuhan, karena aku juga sudah semakin dewasa dalam panggilan hidupku sebagai Imam Biarawan SCJ. Aku tahu banyak umat yang selama ini telah mendoakanku supaya aku tetap setia dalam panggilan ini dan menjadi seorang gembala yang baik. Mereka tidak mau dikecewakan, karena selama ini mereka telah belajar juga dari kesetiaanku.
Jika suatu kali aku bergetar lagi melihat yang cantik, lembut dan menarik, maka aku harus duduk dengan tenang dan berdoa! Amin.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

