Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“O’ Tempora, O’ Mores“
(Duhai sang waktu, duhai
sang kehidupan)
.. …
| Red-Joss.com | Saat ini, kita seolah sedang hening berdiri dan memandangi alias mengaca diri pada hari paling akhir dari rentangan sang waktu sepanjang 365 hari ini.
Berdiri, memandang, dan merenungi diri seirama searah gerak serta alur bergulirnya sang waktu.
Sungguh riil, bahwa kita, sang manusia papa ini, hidup dan berada serta terikat pada relungan sang waktu dan tempat.
Nyata pula, bahwa kita tidak mampu berada pada tempat dan waktu yang sama pada saat yang berbeda. Sungguh, kita ini makhluk yang terikat pada waktu dan tempat.
“Duhai sang waktu, duhai sang kehidupan,” bahwa kita, sang manusia ini, seolah sedang mengeluh mengesah, di sebuah lembah duka dan kita memohon kedamaian dan ketentraman hidup.
Padahal, bukankah seluruh rentang waktu itu adalah waktunya Sang Tuhan, yang mengalir melimpah? (gratia dei).
Hendaklah kita, sambil berdiri dan memandangi diri, mencoba untuk jujur mengintrospeksi diri, apa yang telah kita persembahkan kepada sesama selama 365 hari silam?
Kita berdiri dan seolah mau bertanya, apa tindakan dan perbuatan kita? Pada momen yang sama, kita mau memandang kembali, apa jasa kita untuk dan atas nama kemanusiaan?
Inilah momentum paling strategis sebagai ajang untuk introspeksi diri.
Dari sana, semoga kita memperoleh buah-buah ranum yang siap untuk dipersembahkan di altar sembahan tahun baru 2024.
Inilah kado paling spesial sebagai persembahan pada awal tahun baru bagi hidup dan sesama kita.
…
Kediri, 30 Desember 2023

