Simply da Flores
…
Berkelana menemukan huruf
seperti perjalanan berjumpa jiwa
Entah di mana huruf menjadi kata
untuk lukiskan sosok jiwa
lalu bertemu dan bercanda ria
atau berbagi kisah suka duka
Jiwa, hanya empat huruf
Sukma, hanya lima huruf
Sanubari, hanya delapan huruf
Jiwa, Sukma dan sanubari
menjadi tujuh belas huruf
dan masih banyak kata bahasa lain lagi
“Jiwa sukma sanubari itu tanya dan jawaban”
Meskipun ada aneka bahasa dan aksara
Namun
tak mampu lukiskan sosok wajah jiwa
tak tuntas menuliskan kisah cerita sukma
tak pasti temukan tempat adanya sanubari
Apa dan di mana jiwa sukma sanubari
Entah di ubun kepala dan rambut
Entah dalam otak dan pikiran
Entah dalam jantung dan desir darah
Entah di telapak tangan dan kaki
Entah di mata dan senyuman
Entah di tulang dan sum-sum
Ataukah di alat pernafasan ?
“Jiwa sukma sanubari fakta misteri”
Ziarah sejuta aksara
dalam aneka bahasa manusia
tak pernah mampu menuliskan jiwa
tak habis melukis warna sukma
tak tuntas menenun lembar sanubari
dan
semua berlari dalam ketakpastian
antara kata bahasa dan pengalaman
antara tanya dan kerinduan
antara ketakutan dan keyakinan
antara tradisi dan wahyu keimanan
antara titik koma dan keterbatasan
Kisah cerita terus dicipta manusia
untuk lukiskan pengalaman dan makna
Namun
bahasa dan aksara selalu terbatas
untuk menulis dan merangkai fakta
untuk menyingkap misteri realita
untuk menghitung jumlah rambut
untuk melihat wajah sendiri tanpa cermin dan alat bantu
Termasuk tentang jiwa, sukma, sanubari
Hanya ruang dan waktu
yang bisa merangkul pribadi
untuk mengerti realita dan misteri
“Pada mulanya jiwa misteri
Jiwa meraga dalam realita insani
Jiwa, sukma, sanubari
adalah dimensi rohani Ilahi
Manusia adalah pribadi rohani jasmani
dalam huruf aksara bahasa
Jiwa sukma sanubari itu angin”
…

