| Red-Joss.com | Anak-anak yang lemah itu tidak bisa melawan atau membela diri, ketika hidup mereka diancam atau dalam bahaya. Senjata mereka adalah ‘tangisan’. Itu pun harus ada orang yang bisa menerjemahkan makna tangisan anak itu …
Banyak anak telah menjadi korban dan dikorbankan. Misalnya, atas nama cinta mereka bercinta, tapi dengan jahat banyak orang yang mengaborsi buah cintanya itu. Anak-anak dibunuh oleh hati yang jahat. Berapa juta anak yang sudah menjadi korban aborsi ini. Si anak menangis, tapi suaranya tidak didengar.
Juga banyak kisah pilu anak yang ditelantarkan orangtuanya, karena perpisahan perkawinan atau perceraian. Sehingga hati anak itu terluka. Begitu pula dengan konflik antar golongan dan perang, banyak anak harus mengungsi dari tanah kelahirannya sendiri.
Tangisan pilu anak-anak itu harus ada yang bisa menerjemahkan, menyuarakan dan membela suara mereka. Seperti dalam Injil hari ini, “Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi” (Mat 2: 18). Suara tangisan duka, kesedihan, penderitaan, dan kehilangan.
Cukuplah anak-anak itu menjadi korban dan dikorbankan. Gereja Katolik terus berdiri dengan semangat “Pro Life” untuk membela kehidupan.
Semoga suara Gereja Katolik yang menyuarakan suara tangisan anak-anak itu didengarkan dan diikuti oleh yang lain, supaya bisa membela kehidupan anak-anak dan menyiapkan masa depan mereka.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

