Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kaki senja pun akan memerah dihiasi iringan gemawan berarak.”
…
| Red-Joss.com | Tiada suasana yang lebih indah dan romantis, jika dibandingkan dengan suasana sepotong senja.
Suasana sepotong senja itu mau mendeskripsikan suatu keadaan atau suasana khas menjelang malam.
Suasana malam itu adalah simbol dari kegelapan atau pun suatu keadaan tak berpengharapan.
Kegagalan hidup, rasa kecewa dan putus asa. Ketidakberdayaan karena faktor usia senja, serta hidup tanpa pengharapan, itulah yang mau dideskripsikan sebagai sepotong panorama senja.
Hidup dan keberadaan kita manusia memang sungguh, sangat terbatas. Masa kejayaan pun terbatas, demikian juga segala sesuatu pun terbatas.
Panorama senja itu sejatinya mau mengajarkan sang manusia, bahwa segala sesuatu itu, ternyata sangat terbatas keberadaannya.
Harta benda dan barang-barang pun akan rusak. Makanan enak pun akan membusuk. Ketenaran hidup akan berakhir. Masa kejayaan akan berakhir dengan kegagalan, dan bahkan kehidupan itu akan berakhir dengan kematian.
Jadi, bahasa senja itu adalah sepotong kearifan yang kaya makna. Dia, justru mau mendidik kita akan sebuah kefanaan dan kesementaraan hidup ini.
Maka, Sang Guru Agung pun pernah berpesan, bahwa “Barang siapa mempunyai mata, hendaklah ia melihat. Barang siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar.”
Di dalam konteks kesementaraan ini, kita pun diajak untuk senantiasa hidup sadar dan berwaspada, karena sepotong malam kelam, justru akan diawali dengan sepotong panorama senja menerawang.
…
Kediri, 26ย Desemberย 2023

