| Red-Joss.com | “Opa, saya sedih, kalau Opa benar-benar berada di balik panggung. Saya akan tidak punya Oase Pagi yang ngrembesi (membasahi) pikiran dan hatiku ibarat akar pohon hidupku,” sapa, salah seorang anggota grup WA yang biasa menyapaku dengan sebutan Opa.
Sore harinya, hanya beberapa saat sebelum hujan deras, datang Pak Prodiakon ke rumah, sekadar berkabar, bahwa dirinya juga telah selesai menjalani operasi kedua mata. Bentuk solidaritas sesama kaum sepuh, karena usia dan pergulatan hidup, yang kedua matanya tak lagi berdaya pandang seperti dulu, walaupun hambatannya sudah dilepaskan.
“Saya diminta untuk memandu pertemuan BKSN yang terakhir, tetapi saya memilih untuk tidak dulu sampai saya merasa kesembuhan mata saya ini sudah prima,” katanya.
Saya kebagian pertemuan pertama, seperti biasanya. Akan tetapi tak juga dapat saya tunaikan, sebab waktu itu saya demam sekembali menjalankan tugas menjadi sesepuh dalam acara lamaran anak mbarep adik saya.
Sepertinya inilah saatnya Pak Prodiakon, kita harus berubah peran kita dari berbagi cahaya menjadi air yang ngrembesi, membasahi sekitar hidup kita. Jangkauan memang tidak jauh, namun kehadiran itu tetap memberi arti bagi sebelah-menyebelah
“Opa, saya tidak meminta Opa menjadi air sungai yang deras mengalir, tetapi cukup sebagai air yang setiap hari ngrembesi hati dan pikiran kami lewat sapaannya.”
Jika demikian, kami berdua dengan Pak Prodiakon ada baiknya hadir dalam pertemuan BKSN, tidak sebagai cahaya namun sebagai rembesing toya (air) yang hidup.
Salam pagi dan tetap siaga berbagi tetes-tetes air yang membasahi hati ini.
…
Jlitheng

