Red-Joss.com – Bersaksi, memberi kesaksian, itu hal biasa. Banyak orang melakukan itu. Ada orang yang jadi saksi ahli atau jadi saksi yang meringankan di ruang sidang. Padahal, untuk jadi saksi itu berat. Apalagi, jika kita disumpah di bawah Kitab Suci yang diimani. Berarti kita dituntut jujur, kooperatif untuk jadi saksi kebenaran. Tidak sebaliknya, kita bersaksi dusta atau palsu. Lebih suloyo lagi, jika kita jadi saksi demi imbalan uang
Anehnya, dan mirisnya, ada sebagian orang mudah bersaksi demi Allah. Misalnya, orang yang dikenalnya itu meninggal dunia.
Coba amati dan sikapi dengan bijak, unggahan di medsos itu. Menurut kesaksiannya, orang yang meninggal itu adalah orang baik.
Apakah kita sadar sesadarnya, bahwa sesungguhnya Allah tidak membutuhkan saksi, karena Ia melihat hati. Bahkan, Allah melihat semuanya itu sebelum dunia ini dijadikan.
Apakah kita juga yakin-seyakinnya, sehingga kita berani bersaksi, bahwa orang itu sungguh baik hati terhadap sesamanya. Berapa jam dalam sepanjang hari kita bersama orang itu, sehingga mengenal pribadinya secara mendalam?
Alangkah bijak jika kita menilai orang itu tidak dari kacamata sendiri, dari kekerdilan jiwa ini. Kita tidak asal bersaksi, mengucap sumpah demi nama-Nya yang suci. Ketimbang bersaksi, lebih baik kita berdoa untuk keselamatan jiwa teman yang meninggal itu.
“Jika ya, hendaklah kita katakan: ya. Jika tidak, hendaklah kita katakan: tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat.”
Intinya, janganlah kita mudah untuk bersaksi, bersumpah palsu demi hal yang sepele atau remeh-temeh. Sehubungan dengan perasaan dan kedekatan kita dalam menilai suatu masalah terhadap orang lain.
Bersaksi demi kebenaran itu baik. Tapi, sesungguhnya, kebenaran itu tidak membutuhkan saksi. Karena, kebenaran itu ketetapan Allah: milik-Nya.
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

