Simply da Flores
…
| Red-Joss.com | Bocah-bocah telanjang badan
bersahabat karib dengan debu tanah
Mereka memeluk debu dan merangkul tanah
dahaga kasih sayang dipuaskan debu
lapar cinta persaudaraan dikenyangkan tanah
Debu bukanlah hal najis menjijikan
Tanah bukanlah barang kotor dan hina
Alam lingkungan menulis sanubari jiwa mereka tentang hakikat asali
Jagat raya mencatat pikiran dan nurani mereka tentang harkat martabat
“Manusia sejatinya miniatur jagat raya
Segenap insan mutlak tergantung pada hukum alam dan bagian integral semesta”
Meskipun
“peradaban terus penjarakan bocah-bocah cahaya
dengan kata-kata dan angka”
Anak-anak pewaris negeri
Berkejaran di bawah guyuran hujan
sambil canda ria bermain lumpur
Pikiran dan mata mereka
dibasuh langit
agar tetap terang dan jernih
membaca jejak langkah masa lalu di halaman lumpur
Agar bisa menemukan berlian dan emas untuk masa depan
Agar tetap suci lahir dan batin
berkelana melukis makna arti kehidupan
Agar bisa menjadi garam, ragi dan terang dunia
Semesta mendidik generasi dengan hukum alam
“Bahwa benar itu benar
dan salah itu salah
Maka tak pantas dimanipulasi manusia
apalagi atas nama sopan santun dan nama Allah”
Generasi muda milenial
berselancar di gelombang samudra informasi
Kreasi dan inovasi teknologi menjadi orientasi dan pilihan pribadi
Energi angin membawa nalar berkelana
melintasi realitas ruang dan waktu
Jemari berlari kencang merangkul fakta dan dunia maya
Pikiran berkelahi melerai jeruji penjara masa lalu,
fakta masa kini dan harapan hari esok
Nurani dan jiwa berjuang melepas belenggu rantai tradisi
agar melangkah berziarah mengikuti hukum alam dan amanah Sabda Pencipta Semesta
Kegamangan generasi muda Milenial
adalah menghadapi gemerlap tawaran selera kreasi digital
dan kenangan indah bersahabat debu tanah serta pesona diguyur hujan dan canda ria lumpur
Sementara…
“Jiwa raga dipenjara warisan tradisi peradaban dengan kata-kata dan angka
untuk menghadapi kenyataan dan meraih harapan”
Orang-orang dewasa dan lansia
terbang dengan sayap kecemasan
menerjang awan menggapai planet angkasa
Ingin menghindari kisah cerita sejarah
tentang dosa dan aib masa lalu
tentang kesombongan dan keserakahan selera
Yang sedang disingkap anak cucu
dengan kecanggihan sarana teknologi digital
Banyak tradisi dan warisan tipu daya
yang tak bisa dipaksakan kepada generasi digital milenial
atas nama apa pun dan siapa pun
Bahkan tentang adat budaya dan agama
yang dianggap tabu dan sakral selama ini
Atau aneka tuhan dan allah yang diciptakan,
lalu diperbudak dan dijadikan tumbal untuk ketamakan manusia”
Para arwah leluhur dan pahlawan
menjalankan amanah Sang Ilahi
meneruskan Sabda Penguasa Semesta
mendapat pena angkasa dan tinta langit
Menulis pada desir darah keturunan
tentang kasih sayang sesama saudara
Mencatat pada lembaran desah nafas
anak cucu generasi NKRI
tentang kearifan adat budaya hakiki dan nilai iman sakral suci
“Setiap pribadi insani
adalah pembawa Nur Ilahi
dan pembawa terang di tengah dunia
Setiap anak manusia
adalah inkarnasi Sabda Penguasa Semesta
untuk membagi kasih sayang persaudaraan kepada sesama”
Ada fenomena dan indikasi terjadi
terjadi kreasi inovasi dan revolusi
di zaman digital milenial ini
“Sakralnya ritual adat budaya
semakin dianggap dongeng belaka
Sucinya agama dan ajaran iman
sudah jadi materi konten sosmed untuk keperluan bisnis
Hal neraka, surga, moral dan harkat martabat
sedang diubah menjadi data dan robot
sebagai tujuan keabadian dan kesempurnaan”
…

