| Red-Joss.com | Lelaki itu terhenyak, bahkan sangat terpukul, ketika anak sulungnya, GA minta restu untuk menikah. Tapi yang membuat hatinya sakit-sesakitnya adalah, jika keinginan GA itu ditolak, ia mau mengikuti agama calon istrinya!
Sekali dua, ia mengingatkan GA untuk berpikir jernih agar tidak terburu-buru, salah pilih, apalagi menuruti hawa nafsu.
Keputusan GA telah bulat dan final. Bahkan tidak bisa diganggu gugat!
Untuk yang kesekian kali pula kekeraskepalaan GA itu membuat hatinya terluka dan ia menyalahkan diri sendiri.
Bagaimana tidak. Ia, istri, dan anak-anaknya aktif di lingkungan gereja. Ia juga mendorong anak-anaknya untuk mencari jodoh yang seiman. Nyatanya GA melenceng. Meski sejak awal GA menjalin hubungan dengan gadis itu telah diingatkan. Ia dan istri berharap agar GA dapat menarik gadis itu. Ternyata harapan itu meleset. Gadis itu keukeh. Bahkan GA bermaksud pindah agama, jika pernikahan itu tidak direstui orangtua!
Ancaman, sungguh ia tersinggung dan marah dengan ancaman GA. Sebagai orangtua ia merasa tidak dihargai dan dihormati. Tapi, jika menuruti emosi bakal runyam dan berantakan.
Sebagai aktivis, ia dan keluarga merasa diadili, jika ada teman yang bertanya lewat tatapan mata yang mencemooh mengenai calon menantunya. Ia tidak mempunyai muka, dan merasa gagal dalam mendidik anak.
Padahal selama ini ia dianggap panutan. Ia merasa bersalah, karena kesibukannya mengejar karier dan banyak aktivitas lain itu membuat ia kurang memperhatikan pada keluarga, terutama pada anak.
Kini, semua telah terjadi dan harus dihadapi. Jalan yang terbaik adalah berserah ikhlas, untuk mengikuti kehendak-Nya.
Selama ini ia sungguh merasakan penyertaan Allah. Di saat-saat yang berat dan sulit, Allah selalu menunjukkan jalan ke luar. Ketika pandemi ia menjadi korban phk, tapi ia temukan bisnis online yang menggiurkan hasilnya. Ketika rumahnya sering kebanjiran, ia memperoleh rezeki untuk membeli rumah baru. Kemudahan dan rezeki selalu menyertainya. Bahkan semua itu di luar nalarnya!
Kini, persoalan menjadi rumit. Jika menuruti gengsi dan jaga nama baik, ia tidak mengizinkan GA menikahi gadis itu. Jika tidak, bisa jadi GA yang keras kepala itu bakal merat dan menikahi gadis itu di luar sana. Lalu apa kata orang?
Berserah ikhlas dalam doa adalah jalan ke luar yang terbaik. Allah selalu mempunyai rencana terindah untuk mereka yang percaya dan mengimani-Nya.
Ia akan memberi izin pada GA untuk menikahi pacarnya itu dengan dispensasi. GA telah dewasa dan berhak menentukan jalan hidupnya. Ia telah berusaha memberi contoh yang baik.
Mohon ampun pada Allah, karena ia kurang cakap dalam membimbing anak. Dengan mantap hati, ia serahkah semua itu dalam rencana Allah.
Sesungguhnya, iman kita diuji untuk taat dan setia pada kehendak-Nya!
…
Mas Redjo

