| Red-Joss.com | Hidup itu pilihan, kita yang memutuskan. Tapi adakalanya kita tidak dapat memilih, ketika Allah yang memberikan dan itu tidak bisa ditolak.
Sama seperti yang saya alami seminggu belakangan ini. Saya diberi teman yang sangat istimewa bagai cucu saya sendiri.
Siang itu tetangga sebelah toko main. Ia membawa anaknya yang kecil, M, belum genap 4 tahun.
Biasanya, jika berpapasan di jalan, M tersenyum malu. Ia seperti sulit diajak ngobrol. Bisa jadi belum kenal. Tapi, kali ini M langsung menghampiri saya yang sedang ngobrol dengan pelanggan.
“Boleh main, ya, Opa,” kata M, meminta izin.
Saya terperangah. M, gadis mungil dan imut itu ternyata berani, sopan, dan pintar. Menurun dari Ibunya yang asal Jogya, pikir saya.
Saya mengiyakan. M langsung nemplok pada saya, sedang Papanya yang melihat dari luar tersenyum.

Beruntung, urusan saya dengan pelanggan sudah selesai. Sehingga saya dapat menemaninya.
Kini, saban hari M main ke toko diantar oleh si Mbak atau Papanya.
Jika bagi orang lain kedatangan M mungkin mengganggu. Karena ia banyak bicara dan ingin tahu, sehingga nerocos tanpa henti. Tapi tidak bagi saya. Sebaliknya saya terhibur, pikiran jadi tidak nglangut atau suntuk mengurusi pekerjaan.
Kedatangan M itu bagai oase yang menyegarkan. Bahkan saya belajar cara bersikap polos pada M yang tanpa curigaan, tapi percaya, jujur, dan tulus.
“Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah” (Luk 18: 16).
Firman Tuhan itu meneguhkan saya. Bahwa, sesungguhnya berteman dengan siapa pun itu baik, asalkan kita mau membuka hati untuk melihat hal-hal baik dan positif dari pribadi orang itu.
…
Mas Redjo


Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.