| Red-Joss.com | Karena mulut ini biasa nyinyir pada siapa pun, saya menjadi kheki dan jengkel. Ketimbang mulut nerocos tanpa bisa direm, maka mulut itu segera saya jahit. Tapi anehnya, saya ditegur diri sendiri.
“Lalu bagaimana caramu makan, minum, dan bicara?”
“Sementara waktu saya berdiam diri. Untuk makan minum, saya mau diinfus. Saya mau mendidik mulut ini agar tidak kurang ajar.”
“Kendati mulut kau jahit, tapi tatap matamu senang meremehkan, mencemooh, dan menghina orang. Apa tidak sebaiknya mata itu kau jahit juga?” nurani mengingatkan.
“Saya mau memakai kacamata hitam berlapis-lapis. Untuk bicara aku menggunakan bahasa isyarat,” kilah saya membela diri.
“Faktanya, meski tidak tampak dari luar, tapi kau tidak bisa bohongi diri sendiri.”
Saya terdiam dan tidak berkutik. Saya jengkel sejengkelnya. Gara-gara pilpres, saya menjadi hobi nyinyir, mencela, dan bahkan piawai mengkritisi semua calon itu. Saya juga menjadi analis politik dadakan. Sekadar ikut-ikutan, supaya bendiarani.
Gara-gara sok berpolitik itu, lalu muncul konflik dalam keluarga, dengan teman atau orang lain. Karena beda pilihan. Fanatikisme buta yang menjauhan satu sama lain, memisahkan, dan mencerai beraikan. Padahal pilpres itu sesungguhnya memilih kandidat yang terbaik dari yang baik.
Benar, apa yang dikatakan nurani. Sehebat-hebatnya menipu orang lain, ternyata kita tidak bisa menipu diri sendiri. Sinisme mata itu tidak bisa ditutupi, kecuali kelopaknya dijahit. Sehingga mata ini tidak bisa melihat.
Jalan terbaik adalah berpikir jernih agar saya mampu mengendalikan mulut dan mata ini.
Sesungguhnya, mengapa saya jadi fanatik pada seorang kontestan? Apa yang saya peroleh dari dia? Apa nasib saya juga berubah, jika dia menang?
Dengan menimbang untung rugi, dan bahkan tidak ada manfaatnya bagi diri sendiri. Saya memutuskan untuk tidak ikut-ikutan fanatisme buta terhadap seorang kontestan. Caranya, saya harus mendidik mata dan mulut ini dengan berpikir jernih tanpa memihak dan prasangka.
Hati saya makin diteguhkan dengan firman-Nya:
“Orang yang hati-hati dalam tutur katanya akan aman hidupnya. Orang yang bicara sembarangan akan ditimpa kemalangan” (Amsal 13: 3).
Saya merenung dalam hening. Bibir saya bergetar melafal doa:
“Semoga NKRI dijauhkan dari yang jahat. Pilpres berlangsung dengan aman dan damai.”
Berani mendidik mulut dan mata, karena kita semua bersaudara.
Keputusan saya bulat dan tidak bakal salah pilih.
…
Mas Redjo

