Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Si manusia yang serba oke, ke kiri pun ke kanan. Ke atas pun ke bawah.”
(Didaktika Hidup Sadar)
…
| Red-Joss. com | Mungkin saja, sangat jarang Anda mendengar ucapan atau celetuk, julukan ‘si manusia silet’. Tapi, sejatinya, ucapan berupa sebuah frase ini, memang ada di dalam pergaulan antar warga masyarakat.
Apa itu ‘si manusia silet?’ Mengapa ada adagium atau julukan ‘si manusia silet?’ Tentu, ada dasar dan alasan mendasar, sehingga melahirkan celetuk sinis serta ironis ini.
Tentu, kita semua mengenal sejenis alat yang bernama silet. Dia, sejenis alat berupa lempengan tipis yang sama tajam pada kedua sisinya.
Alat ini berfungsi sebagai alat cukur untuk para pria, sebagai alat pemotong kain atau benang bagi seorang penjahit.
Ada pun aspek yang menarik dari alat ini, karena memiliki kedua sisi yang sama tajam. Secara sosiologis, fenomena ini oleh masyarakat dijadikan sebagai sebuah pembanding (analogi), karena kesamaan fungsi atau proses kerja dengan mulut sang manusia.
Maka, secara atbitrer lahirkan ungkapan manusia silet. Artinya, fenomena sang manusia yang seolah-olah memiliki dua buah mulut yang sama tajamnya.
Karakter khas dari manusia jenis ini adalah sebagai pribadi yang tidak sanggup menjaga lisannya yang memang serba mendua.
Dia memihak ke kanan dan juga ke kiri, lewat tuturannya. Maka, soal kebenaran dan kepastian dari lisannya, sulit untuk dijadikan pegangan.
Dia telah menjelma menjadi pribadi bunglon, membeo, yang serba ok ke segala arah. Jadi, tuturannya tidak dapat dijadikan sebagai ekspresi sebuah kebenaran. Tuturannya pun cenderung bersifat ambivalen alias taksa.
Kehadiran dan keberadaannya di dalam masyarakat, tak jarang dapat menimbulkan pertentangan, karena lisannya yang serba mendua.
Marilah kita, terus belajar untuk menyikapi secara arif, kehadiran dan tuturan yang serba ambigu dari si manusia silet ini.
Bagaimana juga dia bagian dari hidup kita. Maka, terimalah si manusia silet itu seadanya!
…
Kediri, 8 Desember 2023

