| Red-Joss.com | Minggu, awal Desember lalu, adalah kali yang kedua saya berjumpa dengan seorang yunior, ketika 40 tahun yang lalu kami berada dalam satu perahu pembelajaran yang sama, meniti hidup ini.
Awalnya kami bicara ringan tentang membantu seorang teman yang sangat sering terbentur jalan buntu dalam menjalani hidupnya.
- Tetiba padam lampunya di saat jalan terlihat gelap.
- Tetiba jembatan roboh, ketika dia harus menyeberang.
- Tetiba daya menghilang, ketika beban harus dipikul.
- Tetiba pagar menghalang, ketika kaki sedang menapak.
Alias selalu bertemu jalan buntu, bahkan sejak jalan itu belum dijalani.
Kehidupan itu tidak akan kembali ke awal lagi, pada usia kecil kita. Hidup itu akan bergerak maju, tanpa perduli kita siap atau tidak untuk setiap hal yang ada di depan sana. Hidup itu hanya sekali. Itulah kenapa tulisan ini ada, sekadar mengingatkan kita untuk tetap bisa melakukan yang terbaik untuk diri sendiri dan orang lain.
Saya hadir ke dunia ini lewat kedua orangtua yang sangat sederhana. Warisan paling berharga adalah mewarisi sikap hidup mereka, yakni “Menolak untuk menyerah.” Saya tuliskan dalam kalimat berikut: “Di saat tahu hidup hanya sekali, maka penting untuk bisa menginspirasi dan memberi dampak baik bagi orang lain, dimulai dari anak-anak sendiri.”
Salam sehat dan tak henti berbagi berkat.
…
Jlitheng

