“By your perseverance you will secure your lives” (Lk 21:19).
…
| Red-Joss.com | Segala hal yang dilakukan dengan tergesa-gesa, hasilnya dapat dipastikan kurang baik, dan tidak maksimal. Apakah itu belajar, bekerja, dan berdoa, jika dilakukan dengan tergesa-gesa, tidak banyak didapatkan. Bahkan bisa terjadi sebaliknya, kita kecewa dan menyesal, karena melakukannya secara demikian.
Begitu pula dengan pertumbuhan rohani. Kita tidak diizinkan untuk melakukannya dengan tergesa-gesa. Tapi mengikuti prosesnya, menikmati, dan melihat juga tahap-tahapnya. Awalnya, ketika kanak-kanak, kita bisa membuat tanda salib dan mendoakan doa-doa pokok dalam Gereja: Salam Maria, Bapa Kami, Kemuliaan dan Aku Percaya. Sekarang, setelah melewati waktu, kita bertumbuh dalam komunitas: keluarga, sekolah, lingkungan dan Kelompok Devosi, kita merasakan pertumbuhan iman kita itu. Apakah kita melakukan itu dengan tergesa-gesa? Pasti tidak!
Sesungguhnya frase kata “Jangan Tergesa-gesa” ini dikaitkan dengan pertumbuhan iman kita. Ada 4 poin tahapan dari pertumbuhan iman itu:
Pertama: percaya, bahwa Tuhan bekerja dalam hidup kita, juga ketika kita tidak merasakan kehadiran-Nya. Kita merasa kehilangan sosok Tuhan. Atau mungkin juga terjadi saat berdoa di hadapan Tuhan, kita merasa sedang berbicara sendiri. Kita merasa Tuhan tidak ada di hadapan kita. Juga pernah terjadi, saat ditanya seorang tentang relasi kita dengan Tuhan, jawaban kita sekenanya, “yach, biasa-biasa saja”, “tidak tahu” atau “bingung”. Kok bisa? Karena kita tidak tahu, bagaimana Tuhan bekerja?
Sesungguhnya, meskipun kita tidak merasakan kehadiran Tuhan, tapi IA tetap bekerja dalam kehidupan kita. Tidak usah tanya mana buktinya, lebih baik diterima dan dipercayai.
Kedua: belajar terus menerus dan tuliskan pertumbuhan iman kita ke dalam buku harian, refleksi, atau buku jurnal. Intinya, kita berani untuk mengevaluasi pertumbuhan iman. Bukankah kita harus belajar dari pengalaman-pengalaman? Jangan merasa malu, jika memang iman kita belum matang dan dewasa.
Pertumbuhan iman adalah bicara tentang relasi dengan Tuhan. Untuk berelasi baik dengan Tuhan, tidak harus belajar teologi dan Kitab Suci atau ikut kursus ini dan itu. Tapi bagaimana kita merasakan ketenangan dan damai saat berdoa di hadapan Tuhan. Juga saat kita bersabar menantikan jawaban dari doa-doa kita itu.
Ketiga: bertumbuh menjadi pribadi yang sabar di hadapan Tuhan dan untuk diri sendiri. Jujur, banyak dari antara kita terus berjuang untuk menjadi pribadi yang sabar. Banyak dari antara kita suka yang serba cepat dan kadang terpengaruh dengan yang spontan. Jika tidak berhati-hati dan bijaksana, kita mudah frustasi, ketika yang kita inginkan itu tidak tercapai. Bagi pribadi yang cenderung tidak sabaran, ikuti nasihat Santo Yakobus ini, “Biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun” (Yakobus 1:4). Pesannya jelas: “ketekunan itu mendatangkan kematangan yang sempurna.”
Keempat: jangan mudah kecil hati. Sikap merasa kecil atau kecil hati menjadi salah satu penghalang untuk pertumbuhan rohani. Efek dari sikap ini adalah kita tidak akan pernah bisa menjadi pribadi yang mandiri dan akan terus tergantung pada orang lain. Pribadi semacam ini pasti merepotkan. Apakah sikap ini ada dalam dirimu? Jika ada, berubahlah! Coba simak pernyataan ini, “A delay is not a denial from God”. Sering terjadi, jika kita minta kepada Tuhan, tapi tidak segera dijawab, lalu kita ngambek. Kita bilang, “Tuhan tidak sayang”. Stop, jangan seperti itu dan berkecil hati. Tetap semangat dalam Tuhan!
Dari 4 poin itu ingat ungkapan ini,
“Please be patient, God is not finished with you yet.” Yakinlah, Tuhan masih dan tetap menyiapkan rencana yang besar untuk hidup kita. Syaratnya: jangan tergesa-gesa. Pasti, akan tiba waktunya. Tunggu saja!
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

