| Red-Joss.com | Kita membangun keluarga yang kudus, teladannya juga jelas, yaitu Keluarga Kudus Nasaret: Maria, Yosef dan Yesus.
Keluarga Kudus Nasaret menjadi contoh keluarga yang kompak, saling menjaga dan bahu-membahu menghadapi segala cobaan dan tantangan. Misalnya, saat mereka harus menyingkir ke Mesir (Mat 2: 13-15). Kita semua mengamini, bahwa menyingkir ke Mesir bukanlah proses yang mudah pada zaman itu. Cobaan yang mereka hadapi itu berawal dari kekejaman dan keganasan Herodes. Dalam kasus ini Herodes mewakili kelompok yang menolak, bahkan bisa ditegaskan sebagai musuh Allah yang telah mengutus putera-Nya ke dunia. Di hadapan kekerasan, kekejaman, keganasan dan arogansi kekuasaan itu Keluarga Kudus dibangun.
Dalam keadaan yang sulit, penuh ancaman, dan bahaya itu Maria dan Yosef tetap bertahan dalam kesetiaan untuk memberikan yang terbaik bagi masa depan Yesus. Campur-tangan Tuhan amat terasa (melalui malaikat), kendati prosesnya tidak mudah. Campur-tangan Tuhan juga dialami oleh mereka yang harus kembali ke Mesir, kemudian tinggal menetap di Nazaret (Matius 2: 19-23). Begitulah perjalanan awal keluarga Nazaret.
Perjalanan awal yang tidak mudah penuh aral-melintang. Bagaikan mendaki dan menuruni bukit terjal dan melewati jalan berbatuan. Tapi, justru dalam setiap aral, bukit terjal, dan jalanan yang berbatu itu mereka semakin disucikan. Kesucian terjadi pertama-tama, karena Tuhan Yesus sendiri yang menyertai dan bersama mereka, bahkan menjadi pusat kehidupan mereka. Yesus menjadi pusat, sebab segala sesuatu yang dilakukan oleh Maria dan Yosef demi masa depan Tuhan Yesus. Maka pantaslah, jika keluarga di Nazaret itu disebut Keluarga Kudus.
Begitu pula dengan keluarga kita yang disemangati oleh kasih Tuhan Yesus, dibangun menjadi keluarga kudus. Karena kita memusatkan perhatian pada Tuhan Yesus. Dalam segala aral dan rintangan, kita tetap setia dan terbuka terhadap tuntunan Tuhan Yesus. Hal yang sering terjadi, aral itu berawal dari kebutaan, kelumpuhan, dosa, ketulian, kematian dari tumpulnya hati kita terhadap rahmat yang diberikan Tuhan.
Saya mengajak para sahabat untuk memberi tempat yang istimewa dan menerima kehadiran-Nya di tengah keluarga kita.
Menerima Tuhan Yesus berarti:
- Membiarkan diri untuk disembuhkan dari kebutaan, sehingga mampu melihat Dia sebagai penyelamat.
- Membiarkan diri disembuhkan dari kelumpuhan untuk bergerak maju mengimani-Nya, melangkah menempuh jalan-Nya.
- Membiarkan diri disembuhkan dari kusta dosa yang berlepotan dari jiwa dan raga kita dan disucikan oleh penebusan-Nya.
- Membiarkan diri disembuhkan dari tuli, sehingga mampu mendengarkan pewartaan tentang Dia, bahkan mendengarkan Dia sendiri yang bersabda kepada kita.
- Membiarkan diri dibangkitkan dari kematian (kelesuan, kemalasan, kebekuan hidup beriman) dan bangkit untuk memuji dan memuliakan Allah.
- Menyadari, bahwa IA yang kaya raya sebagai Putera Bapa telah berkenan menjadi miskin agar kita menjadi kaya dalam rahmat dan kasih-Nya.
- Menerima Dia yang terus hadir dalam setiap anggota keluarga kita yang masing-masing berjuang untuk mewujudkan panggilan kekudusan.
Kita hendaknya selalu melanjutkan dan menghadirkan karya keselamatan Tuhan lewat keluarga. Kita perjuangkan kasih dan kesetiaan Tuhan agar semakin mewujud dalam seluruh anggota keluarga kita. Sebagai hadiah yang kita persembahkan kepada Tuhan.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

