| Red-Joss.com | 5 tahun lalu, ketika mengunjungi makam Pak Sukarno, Sang Proklamator dan Presiden RI pertama di sebuah kampung kecil dipinggiran kota Blitar.
“Beginilah bukti kehidupan orang yang baik,” kata Bapak sambil menunjuk ke makam. Menurut Bapak, jauh setelah kematiannya, beliau tetap memberikan hal yang baik bagi lingkungannya.
Bapak menunjukkan banyak orang di desa itu yang terbantu secara ekonomi oleh keberadaan makam Pak Sukarno. Banyak warung makanan dan minuman, cendera mata di seputar daerah itu yang melayani para peziarah yang datang seakan tak pernah berhenti.
Kenangan bersama Bapak itu muncul dalam ingatan saya, ketika sebelum berangkat kerja pagi tadi saya menonton sepenggal drama Korea. Ceritanya tentang seorang anak asuh yang diadopsi dari sebuah panti asuhan. Bahwa anak itu tidak akan pernah berhenti untuk berterima kasih atas segala kebaikan sang Ayah yang merawat dan membesarkannya.
Spontan hati Ayah itu tersentak, lalu menanggapi ucapan anak itu dengan berkata, bahwa tidak ada orangtua yang mengharapkan terima kasih dari anaknya.
Tiba-tiba terbayang pula tentang para orangtua yang memberikan hidupnya dan semua upaya untuk dapat memberikan yang terbaik bagi anak-anak yang mereka kasihi. Beberapa dari mereka bernasib mujur, karena anak-anak mereka meluangkan waktu untuk sekadar mengunjungi, merawat, dan memperhatikan mereka di masa tua.
Tetapi tidak sedikit pula dari mereka yang berakhir di panti-panti Wreda atau dirasa menjadi beban bagi anak-anak yang telah mereka besarkan sepenuh hati itu.
Bagi saya pribadi, entah mengapa muncul suatu kepercayaan. Apabila mereka diberi kesempatan untuk mengulang kembali hidup mereka dan melihat masa tua yang menyedihkan itu, saya percaya, bahwa mereka tetap memilih untuk memberikan hidup mereka bagi anak-anaknya.
“Urip iku urup,” sebuah pepatah pendek Jawa yang berarti hidup itu hendaknya bercahaya.
Tidak ada hidup sejati yang tidak dipenuhi kerinduan untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang yang Tuhan hadirkan dalam kehidupan ini.
Sama seperti sebuah pohon yang tidak memakan buahnya sendiri. Hal itu juga mengingatkan saya untuk melihat kembali, apakah saya masih memiliki kerinduan untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak maupun bagi setiap pribadi yang diizinkan Tuhan hadir dalam hidup saya.
Terima kasih Pak Sukarno atas teladan hidupmu. Terima kasih Bapak dan Ibuku. Terima kasih pula pada para orangtua yang mengasihi anak-anaknya di manapun berada.
Dipenuhi oleh pemikiran itu rasanya dunia ini menjadi amat indah, ketika menyadari, bahwa perjumpaan kita ini diterangi oleh nyala api cinta. Hidup yang dipenuhi kerinduan untuk saling mengasihi dan membahagiakan satu dengan yang lain.
…
Herry Wibowo

