| Red-Joss.com | Saya ingin ber-refleksi dengan pertanyaan Timoti Keller, penulis buku “The Feedom of Self forgetfulness,” hati seperti apa yang harus dimiliki setiap murid Kristus?
Fokus bukunya dari 1 Korintus 3:21 – 4:7.
Keller menjelaskan latar belakang kota Korintus yang memang penuh dengan perpecahan. Pada mulanya umat didirikan oleh Paulus, kemudian digembalakan oleh Apolos, Kefas, dan berbagai misionaris lain yang pernah melayani di sana. Sehingga berbagai kelompok umat merasa menjadi murid di bawah masing-masing misionaris itu. Akhirnya mulai timbul perselisihan kekuasaan antara masing-masing kelompok.
Paulus di dalam suratnya, 1 Korintus 3:21 – 4:7, menunjuk, bahwa akar perpecahan kelompok ini adalah harga diri dan kesombongan. Jadi, Paulus menekankan, supaya tidak menyombongkan dan membanggakan diri.
Umat di Korintus kemudian didorong untuk memiliki karakter yang rendah hati, membangun ‘self esteem’ (citra diri) tidak dengan cara membangga-banggakan diri. Tanpa aku kalian bisa apa?”
Tema yang dipakai oleh Paulus ini mengenai ego manusia yang disebut ‘physioo’.
Apakah ‘physioo’ itu? Secara literal terjemahannya adalah terlalu membumbung (kalau bahasa populer Indonesia itu hidung terbang), atau menggelembung sampai tidak sesuai ukuran yang seharusnya. Mungkin seperti balon yang terus ditiup. Ini memberi kita ingatan terhadap sebuah kesakitan, ketika ada bagian dari tubuh, mis hati yang menggelembung, karena terlalu banyak udara dan siap untuk meledak. Inilah yang dikatakan Paulus mengenai ego manusia. Sebuah metafora yang baik. Lebih celaka, yang meniup hati itu orang lain. Sedang yang ditiup merasa senang, tapi tak sadar seperti bom waktu, meledak. “Sayakah itu?”
Tetap sehat dan jaga hati agar tidak terlalu banyak udara.
…
Jlitheng

