Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sang manusia, turun ke bumi, telanjang, tak berharta.”
…
| Red-Joss.com | Kisah ini adalah sebuah kesaksian nyata dari seorang misionaris.
Sang misionaris bersama sekelompok kecil relawan, datang dan menghibur di sebuah panti jompo. Panti jompo ini ini dihuni oleh semua orang lanjut usia.
Betapa mereka bersemangat bersama para relawan. Asyik bernyanyi dan menari riang.
Tapi, ada seorang wanita tua yang semangatnya sungguh melampaui usianya. Dia, bahkan hingga berjingkrak-jingkrak.
Tapi malang, si wanita tua ini pun terjatuh, agak lama tak sadarkan diri. Akhirnya dia menghembuskan nafas terakhir.
Inilah kesaksian sang misionaris!
Aku memberkati jenazahnya yang hanya ditutup selembar kain putih di kamarnya yang juga kecil, yang telah ditempatinya selama 15 tahun.
Di situ tidak ada apa-apa. Kosong. Hanya ada sandal jepit, sebuah ember dan gayung plastik, dan sebuah tas plastik hitam berisi barang-barangnya.
Bahkan pemakamannya pun berlangsung sangat sederhana. Tidak ada kerabat, tidak ada bunga, pun tidak ada kata-kata kenangan.
Hanya sebatang lilin kecil yang masih terus berkedip, ketika si wanita itu berpisah dengan dunianya.
Sambil menulis, hatiku pun bertanya, “Tuhan, inikah cara hidup yang benar, yang sesuai kehendak-Mu? Ataukah ini sebuah kemalangan?”
Saya teringat akan tuturan Sang Anak Manusia. Ternyata, Dia juga tidak mempunyai bantal untuk kepala-Nya.
Tuhan, sang wanita ini tidak membawa apa-apa, ketika berpisah dengan dunia ini, kecuali sekedip kasih kecil yang berkedip bersama sebatang lilin kecil.
Sang Ayub pun berdendang, “Dengan telanjang aku ke luar dari kandungan Ibuku, dan dengan telanjang pula aku akan kembali.”
…
Kediri, 30ย Novemberย 2023

