| Red-Joss.com | Jika direnungkan hidup yang kita jalani ini unik dan banyak hal yang mengejutkan. Seandainya ada mesin waktu, ingin rasanya melihat rekaman hidup yang sudah berjalan sebelumnya itu. Tentu bakal menjadi kisah menarik untuk dilihat dan dipelajari.
Singkatnya, kita bisa mengatakan, bahwa hidup itu memang berputar dengan cepat. Misalnya, kadang banyak uang, tapi adakalanya kita berhutang. Kadang makan kenyang, adakalanya kelaparan. Kita kadang sibuk gila-gilaan, tapi adakalanya tidak mempunyai pekerjaan, dan seterusnya. Semua peristiwa hidup itu direkam dengan rapi dan baik. Tinggal menunggu saatnya untuk diputar dan dilihat kembali.
Sesungguhnya, itulah putaran hidup yang tidak bisa terhindarkan. Jika menghadapinya, kita harus tetap berdiri kokoh-tegak dan tidak mundur. Tapi dukungan di dalam keluarga itu penting. Bukankah dalam janji perkawinan yang diucapkan itu tertulis, “Aku berjanji untuk setia mengabdikan diri kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit.”
Janji kedua mempelai yang membuat hati ini terharu dan bangga. Karena mereka mempunyai komitmen yang kuat: “dari dua menjadi satu” dan itu disatukan oleh kasih mereka dan diteguhkan oleh Allah. Itulah sebabnya bahasa mereka adalah satu, yaitu Bahasa Kasih yang dimengerti oleh mereka saat mengalami untung dan malang, di waktu sehat dan sakit.
Kita sungguh menyadari, bahwa modal untuk membangun keluarga adalah ‘kasih’. Kata kasih ini harus dikembangkan menjadi kalimat kasih, lalu diwujudkan ke dalam Bahasa Kasih, dan akhirnya Bahasa Kasih ini harus mewarnai kehidupan keluarga di saat untung dan malang, di waktu sehat dan sakit.
Jika ada satu di antara kita yang lupa menggunakan Bahasa Kasih dalam hidup berkeluarga tentu kesalahpahaman bakal mudah terjadi dan perselisihan dengan segera datang menghampiri. Sebab membangun hidup berkeluarga ibaratnya, kita seperti mulai sekolah lagi dan siapa itu gurunya? Tentu saja suami istri. Keduanya tidak pernah berhenti belajar dan keduanya tidak merasa rugi untuk saling membantu.
Jika ingin semakin bertumbuh, kita bisa belajar juga ‘dari sekolah lain’, misalnya dari keluarga Kristiani di Lingkungan, Persekutuan Doa, atau dalam Komunitas Devosi yang ada di dalam Gereja di Paroki masing-masing. Mereka juga dalam proses mengembangkan Bahasa Kasih di tengah-tengah keluarga mereka. Karena memang kasih adalah “bahasa yang dimengerti oleh semua orang.”
Maka, menjadi tugas kita menggunakan Bahasa Kasih untuk memelihara komunikasi yang baik bagi anggota-anggota di dalam keluarga kita. Ayat emasnya: “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tapi, jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing” (Bdk. 1 Korintus 13: 1).
Ada sebuah doa yang bisa dipanjatkan sebelum beristirahat (doakan tiap malam):
Dipersatukan dalam Kristus
Tuhan, kami bersyukur kepada-Mu
atas karunia pernikahan kami.
Kami menerima karunia-Mu
Sebagai rancangan bagi hidup kami
Kiranya kasih itu menjadi dasar pernikahan kami,
dijalin oleh kepercayaan penuh kasih sayang dan tekad penuh semangat
Doa kami kiranya dari sejahtera-Mu
senantiasa menjadi tanda tangan
rumah tangga kami. Amin.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

