| Red-Joss.com | Hidup ini semestinya senantiasa ‘fresh’ dan setiap aktivitas dijalani dengan ‘fresh’ pula. Faktanya, pikiran kita tidak selalu ‘fresh’. Kadang menjadi kusut, ribet, dan kadang menjadi ruwet. Jika dipikir-pikir, ya, semuanya kembali kepada pikiran masing-masing.
Harus diakui, pikiran kita itu cepat sekali berubah: hari ini gembira, besok sedih, hari ini bersemangat, besok jadi lesu, dan hari ini mencintai, tetapi besok tiba-tiba membenci. Apa alasannya?
Selalu ada peristiwa atau kejadian yang mendahului. Jujur, jika dipikir-pikir, ya, semuanya kembali kepada pikiran masing-masing. Apa yang sebenarnya terjadi dengan pikiran kita? Apakah memang seperti itu: selalu berubah-ubah dan kita membiarkannya atau sebaiknya mendidik pikiran kita, supaya dari ke hari menjadi lebih bijaksana?
Harus diakui, jika kita mengikuti pikiran yang cepat berubah itu, tentunya akan melelahkan bagi tubuh dan jiwa ini. Kita akan membutuhkan banyak energi dalam sebuah persaudaraan dan persahabatan, dan terhindarkan dalam sebuah keluarga atau hidup berkomunitas. Apabila hal ini terjadi, kita akan mengatakan, capek, benar-benar capek!
Sesungguhnya dilema yang sering terjadi: Banyak orang kelihatannya baik, namun hatinya tidak baik. Dia murah senyum, ternyata niat dan motivasinya jahat. Sebaliknya, ada orang yang menegur dengan keras, tapi sebenarnya maksud dan motivasinya baik. Jadi bingungkan?
Sebenarnya prinsip dasarnya jelas: kalau motivasi kita benar, maka Tuhan akan membela kita. Buktinya: dari buah yang dihasilkan, contohnya menjadi lebih baik, tidak sebaliknya, menjadi lebih buruk. Maka, kita harus hati-hati dengan pikiran kita yang cepat berubah itu: hari ini mencintai, besok membenci. Itu tanda, bahwa motivasi kita belum benar, tetapi masih tergantung dengan ‘mood’ kita. Jika ini yang terjadi, bahaya untuk membangun suatu persaudaraan dan persahabatan.
Harus sadar diri dan berani untuk mendidik diri sendiri. Sebab segala sesuatu akan menjadi berubah, ketika kita berani berubah. Perubahan itu adalah suatu keniscayaan. Jika dunia sudah berubah, tapi kita tidak berubah, ya, ketinggalan. Jika umur berubah, tapi mental kita tidak berubah, ya, tidak akan pernah bertumbuh. Betapa besarnya pengaruh ‘the power of mind’. Kekuatan itu bisa mendorong dan membentuk motivasi-motivasi kita: jadi baik atau jadi buruk.
Dalam Ekshortasi Apostolik ‘Amoris Laetitia’ (The Joy of Love = Sukacita Cinta), Paus Fransiskus menekankan, bahwa keluarga Kristiani harus menjadi karunia dan sumber sukacita. Komitmen ini harus diambil bersama-sama: orangtua dan anak-anak. Jika tidak ada komitmen itu, keluarga Kristiani bukannya menjadi karunia dan sumber sukacita, tapi akan menjadi sumber malapetaka dan kehancuran hati-hidup: dari awalnya sangat mencintai-menyayangi-penuh kasih menjadi membenci-menghindari-penuh dendam.
Sebagai gembala, saya terus berdoa, supaya keluarga Kristiani benar-benar menjadi tempat bertumbuh bagi setiap anggota keluarga untuk mengalami sukacita dalam hidup mereka. Motivasi yang dibangun oleh setiap anggota keluarga adalah motivasi yang baik, benar, dan bertumbuh ke arah yang lebih baik dan bijaksana. Sebagai gembala, saya mempercayai, bahwa sukacita yang terjadi dalam masing keluarga Kristiani akan menjadi sukacita bagi Gereja: wajah Gereja menjadi makin bersinar menerangi, wajah Gereja menjadi amat optimis memandang masa depannya.
Kata-kata Santa Teresa dari Kalkutta: “Love begins by taking care of the closest ones – the ones at home”. Saling pandang anggota keluarga: sudahkah anda saling mencintai? Apakah mereka yang kita cintai itu bersukacita?
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

